Kamis, 30 Agustus 2012

JOGER JELEK

Mr. Joger beri wejangan pagi kepada anggota keluarga Jogger.
Siapa pun melacong ke Bali, tak lengkap rasanya kalau tak mampir ke Joger, sebuah toko oleh-oleh yang terletak di Jalan Raya Kuta, Kuta, Bali. Ribuan orang setiap hari memadati Joger untuk “menyetor duit” dengan membeli produk-produk unik seperti kaos, sandal, taplak meja, asbak, gantungan kunci dan masih banyak lagi yang lain.

Joger kini tak lagi dipandang sebagai sebuah toko oleh-oleh, tetapi telah menjadi salah satu obyek pariwisata Bali. Tak ada rasa sungkan masuk Joger karena, “Lihat-lihat dan Pegang-pegang Gratis” atau “Belanja Nggak Belanja Tetap Thank You!” begitu tagline yang diusung. Belum lama ini, saya berhasil menemui biangnya pabrik kata-kata, Joseph Theodorus Wulianadi alias Pak Joger.

Wawancara mulai jam 9 pagi, berakhir jam 4 sore. Dan, ini merupakan rekor wawancara terlama. Jeda hanya 30 menit pada jam 12 siang–Pak Joger mengajak saya makan siang bareng. Ibu Ery Kusdarijati, mantan pacar alias istri Pak Joger menghidangkan santap siang penuh ramah. Sungguh, sebuah sambutan hangat yang tak pernah saya bayangkan.

Wawancara dilanjutkan. Kali ini, Pak Joger mengajak saya masuk ke ruang kerjanya. Ruangan penuh dengan ornamen khas Bali, luas sekitar 4x7 m. Buku-buku koleksi Pak Joger tertata rapi di atas rak kayu yang terletak di sisi ruangan, berhadapan dengan sofa. Di sudut kiri terdapat seperangkat komputer sebagai alat kerja Pak Joger. Di rungan inilah sebagian besar karya-karya Joger dilahirkan. Di sini Pak Joger mulai memaparkan lika-liku usahanya.

Berawal dari Semangat Pembelaan
Pak Joger sebetulnya telah memulai usaha sejak tahun 1981. Waktu itu masih door to door alias gedor-gedor dari rumah ke rumah. Tempatnya masih di rumah mertua istri Pak Joger (rumah ibu Pak Joger). Pak Joger dulu guide berbahasa Jerman. Selama menjadi guide ia kerap kali melihat wisatawan lokal mendapat perbedaan perlakuan dari pelayan maupun pengusaha art shop.

“Kalau ada orang lokal masuk, langsung ditanya, ‘nih, mau apa nih? Mau lihat-lihat saja atau mau tanya-tanya saja.’ Orang-orang kita kalau masuk art shop bawa uang pun pake ditanya, ‘berapa bawa uang?’. Kok pake ditanya? Saya merasa orang lokal dilecehkan. Nah, itu saya bela. Ada semangat untuk membela itu sebetulnya” kata Pak Joger.

Mengenai asal-usul nama Joger. Waktu itu, Pak Joger mendirikan sebuah toko di Jalan Sulawesi 37 Denpasar. Di sanalah asal nama Joger. Publik mulai mengenalnya. Ceritanya, kala itu, karena sudah berbentuk toko, maka ia harus punya izin dagang. Dan, untuk memperolehnya tentu perlu nama. Pak Joger memang terbiasa nyeleneh, memutar otak agar nama tidak pasaran. Maka, terlintaslah nama J+O+G+E+R yang merupakan penggabungan nama depan dirinya; JOseph Theodorus Wulianadi dan nama depan sahabatnya Mr. GERhard Seeger.

Mr. Gerhard sendiri adalah teman kuliahnya sewaktu menenpuh sekolah perhotelan di Hotelfachshule, Bad Wiesee, Jerman Barat, tahun 1970-an. Saat Pak Joger menikah, Mr. Gerhard memberikan hadiah sebesar US$ 20 ribu sebagai modal. Nama Joger akhirnya melekat pada dirinya.

Tim Kreatif Joger
Dulu, sebelum 1987, tim kreatif Joger sebanarnya ada tujuh. Tapi setelah tahun 1987 sampai sekarang, tim kreatif tinggal lima. Yang dua dipekerjakan pada bagian-bagian yang lain. Adapun yang lima ini, yang pertama adalah words collector.

 Dia ini oknum yang mengumpulkan kata-kata dari semesta alam; dari gunung, sungai, janda, duda, sekolah maupun dari kampus.

Kata-kata itu dibawa ke oknum kedua. Oknum yang kedua itulah yang namanya editor. Kata-kata yang banyak itu diedit menjadi kalimat pendek yang disebut aborism. Aborism adalah ungkapan singkat yang bermakna luas dan mendalam. Setelah itu baru dibawa ke oknum yang ketiga. Oknum yang ketiga ini adalah grafis.

Garfis adalah yang mengerjakan gambarnya, tata letak atau layout. Setelah itu dibawa ke oknum yang keempat, yaitu komposer warna. Komposer bertugas membuat komposisi warna. Warna matanya apa? Kupingnya apa? Celananya apa? Dan yang terpenting adalah oknum yang kelima. Dia adalah kritikus. Karena pabrik kata-kata ini kalau kata-katanya tidak dikritisi, nanti khawatir bertentangan dengan moral.

“Itulah lima tim kreatif Joger dari tahun 1987 sampai sekarang. Tetapi, kami di Joger merasa beruntung, karena kelima oknum ini ada dalam diri saya sendiri. Ok, jadi itu adalah cara saya menyombongkan diri dengan rendah hati, atau merendahkan diri dengan sombong. Sekarang terserah Anda, Anda mau mengatakan saya sombong atau rendah hati tergantung bagaimana cara berpikir Anda,!” tutur Pak Joger dengan nada guyon.

Promosi = Dispromosi
Sebuah usaha apa pun tentu saja membutuhkan promosi untuk meningkatkan omzet penjualan. Joger malah melakukan sesautu yang tak lazim, yakni dispromosi. Loh, kok? Menurut Pak Jogger, dispromosi itu artinya bagaimana Joger menyampaikan secara baik, jujur, ramah, bertanggung jawab dan bermanfaat bagi diri Joger dalam arti optimal dan seluas-luasnya. Sehingga apa? Tidak merugikan siapa-siapa.

Salah satu contoh omongan berbau dispromisi, “Belilah produk Joger yang jelek-jelek, tapi jangan lupa sisakan uang Anda untuk beli produk yang bagus-bagus ditempat lain.” Itu artinya Joger mengaku jelek.

Dispromosi dilakukan tidak bermaksud meningkatkan penjualan atau meningkatkan keuntungan. Tapi, meningkatkan kebahagiaan.

“Kami memang mengaku jelek. Karena kami memang jelek. Tapi, tidak usah khawatir. Kita di Joger hanya menjual yang jelek-jelek, yang bagus-bagus kami pakai sendiri. Nah, ini kan bagus bagi saya (sambil menunjuk kaos yang dikenakan). Tapi, ini dengan keyakinan atau pengertian bahwa sesuatu yang jelek bagi kami belum tentu jelek bagi Anda. Karena jelek bagi orang Amerika, belum tentu jelek bagi orang Ameriki. Iya, nggak? Karena kalau bagi Anda belum tentu jelek, mau beli? Silahkan! Yang penting jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sedikit. He he he…” tutur Pak Joger.

Marketing Ala Joger
Menurut Pak Joger, marketing gaya Joger sebenarnya adalah bagaimana menipu konsumen secara baik-baik, legal dan menyenangkan. Sehingga mereka yang ditipu pun merasa tidak tertipu, bahkan sebaliknya merasa senang, puas dan bahagia. Dan saking bahagianya, maka sering-seringlah mereka datang ke Joger untuk ditipu secara berkesinambungan.

Di beberapa bagian diding gerai Joger pun dipanjang beberapa tulisa, antara lain: “Dilarang Belanja Terlalu Banyak! Tapi juga janganlah terlalu dikit” “Lihat-lihat dan Pegang-pegang gratis” “Mengecewakan Boss adalah bahaya besar, tapi mengecewakan konsumen adalah bahaya yang lebih besar karena konsumen adalah Boss dari Boss kita, he he he …”

Sejak tahun 2006, pengunjung tidak boleh beli lebih dari 10 potong. Tapi, kerana diprotes-protes terus oleh pengunjung, akhirnya Joger terpaksa kompromi, dinaikan menjadi 12 potong.

“Satu orang dalam satu hari hanya boleh membeli 12 potong kaos kami. Nah, itu batas maksimalnya. Batas minimalnya adalah kalau Anda memang sudah ingin berbelanja di tempat kami, janganlah kurang dari satu. Jadi, minimal satu karena kalau Anda mau beli kaos kami separoh, apa lagi seperempat, tidak kami layani. He he he… Itu yang dimaksud dengan dispromosi,” tutur Pak Joger ber-dispromosi.

(Tulisan dimuat di Majalah Bisnis M&I)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon