Rabu, 25 Juli 2012

Yayasan Pembangunan Sanur - Pilar Budaya Berkelanjutan

Tatkala suhu politik gerah. Di saat sayap-sayap permusuhan antar sahabat, kerabat, dan tetangga gampang tersulut. Sewaktu orang-orang ringan tangan, main hakim sendiri karena beda idiologi. Di antara himpitan harga kebutuhan melonjak tinggi. Dan, ketika letusan Gunung Agung baru saja lewat dua tahun. Saat pariwisata Sanur baru bertunas. Pada tahun 1965, Yayasan Pembangunan Sanur (YPS) didirikan oleh 22 orang pendiri.

Menurut Ida Bagus Gede Sidartha, Ketua Umum YPS, para pendiri sangat visioner membayangkan wajah Sanur ke depan. Meski kondisi masyarakat carut-marut dan tercabik-cabik, mesti ada simbol pemersatu. YPS lahir sebagai wadah untuk menyatukan masyarakat Sanur.

Sanur berasal dari kata Se-Nur yang berarti satu sinar suci atau sebuah kawasan suci. Berangkat dari kesadaran historis tersebut menjadi modal tak ternilai untuk menyatukan masyarakat Sanur. YPS dengan tulus membagi kesadaran pada masyaraka untuk mejaga Sanur agar tak tercerabut dari  jati dirinya.

YPS mengembangkan sumber daya manusia agar dapat bersaing. Dengan demikian, masyarakat Sanur tak hanya menjadi penonton di pentas pariwisata. Ia juga harus menikmati hasil pembangunan di wilayahnya. YPS menjadi jembatan masyarakat dengan pelaku usaha atau mereka yang mengambil untung dari daya pikat Sanur. Perusahaan diminta menyerap 40% tenaga kerja lokal.

“Kami mengusung slogan ‘Sanur kami, Sanur kita’. Kita sangat welcomepada pengusaha. Tapi, jangan hanya menjual hotel dan restoran, sementara tidak memberikan kontribusi balik kepada Sanur. Pengusaha memang membayar pajak untuk infrastruktur. Tetapi tanpa ada yang menampilkan gong, gamelan dan berbagai totonan kesenian, kawasan Sanur tak berarti apa-apa,” ungkap Sidharta.

Sanur sebagai daerah pariwisata mengalami  kejayaan di era 80-an. Setelah berkembang daerah lain seperti Kuta dan Nusa Dua, perkembangan sanur sedikit lamban. Tetapi justeru karena itu Sanur mendapat berkah. Tidak larut dalam pariwisata massa. 

“Coba lihat, bagaimana orang mengeluhkan Kuta sekarang. Kuta yang macet lah, Kuta yang sudah tak berciri Bali lah. Sebelum terlambat, kita tata Sanur agar tetap terjaga keasliannya. Kemudian bagaimana kita tetap bisa mengawal Sanur agar berkelanjutan. Dia harus mengikuti pasar tanpa harus kehilangan jati dirinya,” kata Sidartha. 

Keamanan Kita Bersama
YPS sadar betul, faktor keamanan suatu kawasan wisata haruslah dijaga. YPS menjalin kerja sama berbagai unsur swadaya masyarakat untuk menjaga keamanan dan kertertiban lingkungan (kambling). Pertama, Polisi sebagai leading sector. YPS menganggap polisilah yang berwenang melakukan penegakkan hukum sesuai hukum yang berlaku. 

Kedua, Bantuan Keamanan Desa (Bankamdes) Sanur. Bankamdes ini memiliki dua fungsi. Pertama bekerjasama dengan dinas Trantib. Dia bisa mengamankan gepeng, orang gila, pengemis. Pada saat Nyepi, hannya mobil Bankamdes yang boleh keluar untuk bertugas. Mengantar orang sakit ke rumah sakit misalnya. 

Unsur ketiga dari adat, yakni pecalang. Di Sanur, dibedakan secara professional tugas pecalang dengan Bankamdes. Pecalang tidak boleh mengatur parkir dan lalu lintas umum.  Pecalang tugasnya hanya pada saat ada kegiatan-kegiatan adat. Ronda Kambling aktif dilakukan di banjar-banjar oleh Bankamdes. 

“Kita selalu melakukan koordinasi dan membangun komunikasi dengan semua unsur yang terlibat. Kita selalu melakukan pertemuan regular tiap bulan atau diwaktu-waktu yang dianggap perlu  guna membahas keamanan lingkungan. Kita juga membangun komunikasi dengan satuan keamanan hotel dan restoran sekitar,” ungkap Sidartha.

Unsur lain yang tak kalah penting adalah Pemuda Sanur Bersatu. Para pemuda ini sangat pro-aktif dalam menjaga keamanan wilayahnya. Mereka pemuda-pemuda yang sadar, kalau bukan mereka, siapa lagi yang akan menjadi penjaga Sanur. 

YPS menyerap aspirasi masyarakat melaui musyawarah kerja (Musker) yang  dilaksanakan 5 tahun sekali. Melibatkan seluruh banjar. Kepala desa, kepala lingkungan, tokoh puri, tokoh adat, tokoh griya, tokoh masyarakat, dan tokoh agama. Jumlah peserta mencapai 300 orang. 

Semua ide dituangkan melalui musyawarah kerja. Musker berlangsung selama tiga hari. Peserta dibagi dalam tiga komisi. Masing-masing membahas program kerja, keuangan yayasan, dan legalitas yayasan. Program kerja yang dijalankan dievaluasi setiap tahun melalui rapat kerja tahunan.

Usai diskusi dengan warga Sanur dan bincang-bincang dengan Ketua Umum YPS, Solidaritas bersama kru YMK– Bobby, Gunadjar, Hartono dan Ale menuruni anak tangga gedung pertemuan YPS nan megah. Memandangi taman rumput nan luas sebagai panggung terbuka, gedung-gedung kantor yang tertata, BPR Sanur milik YPS, Pos Bankamdes nan gagah. Semua itu cukuplah menjelaskan sebarapa dhasyat kiprah YPS. Dan, Sanur is Beautiful(Tulisan dimuat di Majalah Solidaritas, Vol. V)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon