Minggu, 29 Juli 2012

Tata Iklan, Uang dan Tata Ruang Denpasar

Papan iklan bertebaran di seputran Jalan Teuku Umar Denpasar
Siang itu saya menyusuri jalan-jalan utama Kota Denpasar. Kendaraan bermotor penuh sesak memadati ruas jalan. Bising kenalpot menjadi nada-nada tak sedap di telinga. Papan reklame berlomba-lomba mengambil bagian terdepan, seakan tak mau luput sedikit pun dari pandangan mata setiap pelintas jalan. 

Papan reklame dan wajah kota sama seperti wanita dan kosmetiknya. Kosmetik berfungsi mempercantik wajah, tapi ketika salah menggunakannya, wajah bisa jadi berantakan.

Roy Wicaksono, Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) Bali baru-baru ini mengakui, keberadaan papan reklame di sepanjang sisi jalan kota telah berubah menjadi polusi visual. Pemasangan papan reklama di sudut-sudut kota menurutnya menimbulkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, akan mempercantik wajah kota. Kemungkinan kedua, sebaliknya akan merusak wajah kota.

“Kami menginginkan mempercantik wajah kota. Karena kami juga peduli terhadap terciptanya lingkunganakan nyaman untuk kita semua. Selain itu, juga berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan teman-teman. Suatu kawasan yang tertata dengan baik akan menaikan kualitas suatu reklame,” ungkap Roy.

Kesemrawutan bukan semata-mata akibat pemasangan papan reklame oleh pengusaha periklanan, tetapi juga ditibulkan dari kegiatan usaha lain. Pemasangan papan nama toko misalnya–satu toko bisa lebih dari satu papan dengan ukuran dan letak yang tidak teratur.

Regulasi Reklame Luar Ruang Lemah
Menurut Roy, kesembrawutan penataan reklame luar ruang akibat belum ada aturan tak tegas mengenai pemasangan papan reklame. Di daerah Jl. Teuku Umar misalnya, aturan menyebutkan papan reklame tak boleh saling menutupi, tapi lihat kenyataannya. Secara estetika tidak dapat, pesan yang hendak disampaikan pun tak sampai. Terlihat kumuh.

“Kami, orang periklanan menginginkan agar itu ditata. Kita telah menyampaikan konsep penataan kepada pemerintah–disampaikan melalui buku. Kesemrawutan menimbulkan kerusakan tata kota dan merugikan industri periklanan,” kata Bos Mitra ini menjelaskan.

Pihak pengusaha periklanan, khususnya iklan luar ruang berharap, pemerintah membuat aturan tegas mengenai iklan luar ruang. PPPI Bali telah menyampaikan usulan perbaikan regulasi periklanan luar ruang kepada Pemerintah Daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten Badung dan Pemerintah Kota Denpasar.

Aturan saat ini masih bersifat umum, belum  memuat hal-hal teknis pariklanan. Akibatnya, sering terjadi “tabrakan” kepentingan di lapangan. Setiap orang memiliki penafsiran yang berbeda, tidak ada kepastian dan menimbulkan pembengkakkan biaya bagi pengusaha periklanan.

“Contoh kasus yang sering terjadi–awalnya ada tempat yang tidak dikeluarkan izin karena alasan tertentu dalam aturan. Anehnya, ada anggota lain yang bisa mengantongi ijin di tempat yang sama. Hal semacam ini akan merugikan sesama pengusaha periklanan akibat persaingan tidak sehat.” tutur Roy.

Pemerintah cukup positif menanggapi usulan PPPI Bali. Di seputar Jalan Teuku Umar tidak lagi dikeluarkan ijin baru. Pengusaha periklanan beharap tak sekedar membatasi ijin baru, tetapi ada regulasi penataan. Pihak PPPI siap membantu pemerintah untuk melakukan penataan.

“Kita pun siap mentaati aturan pemerintah. Namun demikian, aturan yang baru tidak berlaku surut. Ijin yang diberikan sebelum aturan baru keluar tetap jalan sampai masa tenggang waktunya selesai, ujar Roy berharap.

Berdasarkan data yang saya himpun dari berbagai sumber, total belanja promosi perusahaan di Bali mencapai Rp 1 milyar per tahun–perusahaan lokal maupun perusahaan di luar Bali. Uang tersebut dihabiskan dalam berbagai bentuk promosi, salah satunya penyewaan papan iklan luar ruang.

Kontribusi pajak iklan terhadap PAD (Pendapatan Asli Daerah) memang tak sebesar PHR (Pajak Hotel dan Restoran). Berdasarkan data PPPI Bali, PAD dari sektor periklanan di Kota Denpasar mencapai Rp 13  milyar per tahun.

Pemerintah sebetulnya masih bisa mendongkrak PAD dari sektor iklan. Caranya dengan membuat reglasi dan aturan main yang jelas. Berkaitan dengan iklan luar ruang, regulasi diperlukan tidak hanya menguntung dari aspek ekonomi, tetapi juga diperlukan sebagai panglima dalam menata keindahan wajah kota.

Comments
1 Comments

1 komentar so far

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon