Senin, 30 Juli 2012

STUDIO BATIK TJOK AGUNG - Karya Ibu Rumah Tangga Mendunia

Batik di Studio Tjok Agung
Ledakan Bom di Bali pada 12 Oktober 2002 menghancurkan Restoran Sari Club di Legian, Kuta dan menelan korban ratusan orang. Dampaknya tidak berhenti di situ saja melainkan menjalar kemana-mana. Dalam sekejap hotel, restoran, pusat-pusat perbelanjaan, tempat hiburan dan berbagai sektor pendukung pariwisata lainnya menjadi sepi pengunjung.

Ribuaan karyawan terpaksa dirumahkan dari pekerjaannya karena managemen tak mampu membayar upah. Adalah Tjok Agung Gede Pemayun tergerak untuk menciptakan peluang usaha yang berbasis komunitas. Usaha tersebut untuk mengatasi masalah pengangguran di desa kelahirannya, Desa Pejeng, Tampaksiring di Kabupaten Gianyar.

Kala itu Tjok Agung telah mapan di sebuah perusahaan garmen ternama di Bali yang tidak terlalu terpengaruh dampak bom Bali. Saat pulang ke desanya, Tjok Agung menyaksikan kenyataan menyedihkan, banyak warga desa yang menganggur karena terkena pemutusan hubungan kerja akibat lesunya pariwisata Bali.

Masalahnya bukan sekedar pengangguran itu sendiri, melainkan bagaimana pengangguran itu juga menjadikan para perempuan dan ibu rumah tangga menanggung beban saat suami mereka terjebak dalam situasi putus asa.

“Setiap hari para ibu rumah tangga harus berfikir dan mencari cara agar dapat makanan dan biaya hidup untuk satu hari saja. Hutang pun sudah tidak bisa karena sudah terlampau banyak,” Ujar Tjok Agung.

Ayah dari dua anak ini mengambil langkah yang tidak populer saat itu. Ia keluar dari pekerjaannya dan secara khusus belajar membuat batik di sentra-sentra produksi batik di pulau Jawa. Setelah merasa cukup ilmu, ia kemudian pulang dan mendirikan studio batik di desanya.

“Membuka studio batik ini bukan kebetulan semata, tetapi lebih pada pertimbangan untuk memunculkan sebuah inovasi baru dalam berusaha. Saya tidak ingin membuka usaha yang sudah dilakoni oleh saudara-saudara kita yang lain karena bisa menciptakan iklim persaingan yang tidak sehat dan mempersempit kesempatan berusaha,” ungkap Tjok Agung penuh semangat.

Ibu-ibu rumah tangga yang selama ini sebagai penyukong urusan domestik menjadi sasaran Pak Tjok. Waktu luang kaum ibu usai mengerjakan tugas-tugas rumah tangga dimanfaatkan untuk belajar membatik. Untuk pekerja baru, biasanya mendapat training selama kurang lebih dua minggu sebelum ia mulai memegang canting.

Anggota kelompok Studio Batik Tjok Agung kini berjumlah 40 orang. Semuanya bertempat tinggal di daerah sekitar tempat usaha, dan kebanyakan memiliki hubungan kekerabatan yang dekat sehingga jam kerjanya pun diatur fleksibel disesuaikan dengan aktivitas lain di luar pekerjaan sebagai pembatik.

Dengan demikian acara adat, keagamaan dan tugas-tugas sebagai ibu rumah tangga tidak terganggu. Menariknya lagi, anak-anak mereka dapat bermain dan belajar disamping ibunya yang sedang membatik.

Tangan-tangan terampil kaum ibu kini telah menghasilkan ribuan lembar batik berkualitas tinggi. Karya mereka tak hanya diminati dalam negeri, tapi telah menembus pasaran dunia. Dan tentu saja, sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kini tak lagi bergantung sepenuhnya pada pendapatan suami, karena potensi kaum ibu yang tertidur selama ini telah bangkit dan mendongkrak ekonomi keluarga berkat sentuhan kesabaran Tjok Agung.

Tjok Agung sadar betul bahwa setiap anggota kelompok mengkontribusikan potensi mereka terhadap kemajuan usaha batik. Tjok Agung kemudian membangun relasi yang sehat dengan anggota kelompok dengan membentuk koperasi. Koperasi sebagai wadah untuk meningkatkan kesejahteraan yang berkeadilan.

Keberadaan koperasi sangat membantu anggota kelompok. Saat kebutuhan keluarga mendesak mereka dapat memijam di koperasi. Selain itu sisa hasil usaha dari kegiatan simpan pinjam dan usaha lainnya juga dibagikan kepada anggota.

Batik Ramah Lingkungan
Tatkala para pembatik lain berlomba-lomba menggunakan bahan pewarna kimia dengan alasan lebih mudah didapat dan harganya yang jauh lebih murah, Tjok Agung memilih untuk tetap mempertahankan pewarna alam sebagai bahan dasar batiknya. Meskipun diakuinya bahwa untuk mendapatkan bahan-bahan tersebut tidaklah mudah.

“Pilihan ini bukan menjadi trend bisnis. Akan tetapi saya ingin melakukan hal-hal kecil untuk mempertahanakan kelestarian lingkungan kita. Limbah yang dihasilkan oleh pewarna alam tidak akan mencemari tanah” tutur Tjok Agung.

Warna alam yang menjadi andalan studio Pak Cok berasal dari tanaman indigo yakni satu-satunya jenis tanaman penghasil warna biru. Hanya tumbuh di daerah yang beriklim sedang, tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin.

Di Pejeng sendiri indigo memang ditanam oleh masyarakat setempat, namun tanaman ini hanya akan tumbuh subur pada kisaran bulan Juni – Desember. Bahan pewarna lain yang juga digunakan adalah kayu kuning, kulit buah delima, bunga sidawayah, akar mengkudu, dan lain-lain.

(Tulisan dimuat di Majalah Bisnis M&I)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon