Selasa, 24 Juli 2012

Sawah Taman Kami Bermain

Anak-anak bermain di persawahan
Pada Oktober 2011 lalu, di jalan Tukad Balian, denpasar, perlahan-lahan matahari tenggelam di ufuk barat. Semburat cahaya merah kekuning-kuningan membelai wajah-wajah bocah tengah bermain. Sekawanan burung bangau mematuk sisa-sisa butir padi terjatuh usai panen. Mengais cacing di tanah usai dibajak petani. Lalu terbang kembali ke sarang setelah bergelut di sawah seharian.

Di Jalur Hijau, Jalan Tukad Balian, Denpasar, Dayu (11), Made (3), Mirnawati (7), Puspa (3) dan Nita (5) asyik bercengkrama dengan alam. Suara tawa bocah-bocah itu memecah kesunyian sore. Aroma asap jerami dibakar petani amat lekat, selekat tanah dan kehidupan.

“Tiap sore Dayu ama teman-teman main di sini, om. Kalau habis panen, asyik. Tempatnya luas. Kita sering main galo-galo. Teman-teman cowok bisanya main bola. Kadang juga main perang-perangan,” tutur Dayu.

Ditanya kenapa senang main di sawah? Dayu dan teman-teman mengaku senang saja. Terkadang ia dan teman-teman sering mengerjakan PR di gubuk sawah. “Apalagi kalau pas ada PR menggambar, om. Enakan buat di sini. Kalau di rumah rasanya nggak bagus,” ungkap Dayu.

Saya memandangi garis-garis lengkung pematang. Di ujung sana, hamparan sawah tak lagi seluas mata memandang. Pandangan terbentur pada dinding-dinding beton pemukiman warga. Bila cermat diperhatikan, ternyata cahaya matahari sore itu pun tak lagi bebas jatuh ke tanah. Ia tersangkut di atap-atap gedung. Ia terhalang oleh tiang dan kabel listrik.

Cerita Dayu dan teman-teman sepuluh tahun mendatang, bisa jadi beda. Segala kenagan yang terukir di atas tanah itu akan terpendam oleh batu-batu pondasi bangunan. Imajinasi alam nan tenang terusik oleh kerasnya laju ekspansi perkotaan.

Yah, meski di kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai Jalur Hijau oleh pemerintah, tetapi kian hari kian diramaikan oleh bangunan. Jalur hijau yang berfungsi sebagai paru-paru kota, kini mengalami penyempitan rongga udara akibat polusi bangunan. Keluhan warga pemerhati kota berlalu tanpa arti.

I Wayan Sudana, warga Denpasar, tak tahan melihat jalur hijau di seputaran Tukad Balian yang semakin hari semakin tenggelam oleh bangunan. Melalui blog pribadinya ia berbagi keprihatinan.

“Pada tahun 1997, Jalan Tukad Balian bak hamparan permadani. Laksana oase di padang pasir, di mana masih bisa dihitung jumlah hunian di wilayah tersebut. Berdasarkan papan pengumuman Jalur Hijau yang dibuat oleh Pemerintah Kota, seharusnya dan bahkan wajib, bahwa jalur timur Tukad Balian bersih dari Hunian. Namun seiring waktu, papan pengumuman dibiarkan teronggok tak berdaya di tepi jalan,” ungkap Sudana.

Sudana mengaku, Kalau hanya menggerutu, tak ada artinya tanpa perbuatan. Lewat kampanye media, ia mencoba berbagi. Ia juga berharap mudah-mudahan aktivis atau LSM lingkungan di Bali khususnya, dapat melihat dan segera menuju ke TKP (Jl Tukad Balian Denpasar), dan ia juga berharap Pemerintah Kota dapat melihat.

Sawah, dalam kehidupan masyarakat petani tak hanya sekedar tempat menanam. Di sana juga menjadi taman nan indah, tempat bermain anak-anak. Ketenangan dan keindahan hamparan sawah bahkan memberi inspirasi bagi setiap penikmatnya.

Soekarno, Bapak Bangsa Indonesia, mendapat ispirasi ajaran yang dikenal dengan Marhaenisme di sawah. Usai bercakap-cakap di sawah dengan seorang petani miskin dari Bandung selatan, Marhaen membangkitkan semangat Soekarno untuk melepaskan Indonesia dari penjajahan Belanda.

Disebutkan, pertemuan petani lugu dan hidup sederhana di sawah itu, ternyata membekas di hati Soekarno, hingga berkali-kali pemimpin besar ini menyebutkan nama Marhaen, seorang petani dari Bandung selatan di setiap perjuangannya maupun pada forum-forum besar.

Di akhir pertemuan saya dengan Dayu dan kawan-kawan. Iseng-iseng saya mengeluarkan sehelai kertas plus sebatang pulpen dalam tas. Kemudian meminta Dayu dan kawan-kawan menggambar pemandangan yang tampak sore itu.

Ada kegalauan terpancar dari gambar mereka. Tangan-tangan kecil itu jujur. Dulu, anak-anak seusia mereka, bila menggambar pemandangan, matahari selalu tampak di antara dua gunung. Namun, di garis-garis lugu Dayu dan kawan-kawan, matahari tampak diantara gedung-gedung bangunan. Sungai berganti jalan raya.

Di sudut atas kertas, bocah-bocah tak lupa beri judul gambar, “Sawah Taman Kami Bermain”. Saya berlalu dengan senyum di hadapan mereka. Walau sesungguhnya ada kegalauan dalam hati. Sampai kapan mereka dapat bermain di taman itu?

(Tulisan dimuat di Majalah Solidaritas Vol. 6)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon