Selasa, 24 Juli 2012

Sawah Kita Semakin Hilang

Di suatu sore, pertengahan Oktober lalu, Made Togar (80) menyabit rumput di pematang sawah, Jalan Tukad Nyali, Sanur Kaja, Denpasar. Rumput-rumput itu untuk pakan dua ekor sapi milikmya yang tersisa. Gerak tangannya tak lagi lincah. Guratan-guratan keriput di wajahnya isyarat sebagai lelaki pekerja keras. Pada Solidaritas Made Togar berbagi gelisah.

Pekak Togar mengeluhkan tanahnyayang tak lagi seluas dulu. Anak-anaknya tak ada yang enggan jadi petani. Susahnya mencari rumput makanan sapi. Anjloknya harga jagung tatkala panen tiba.

Suara hati Made Togar menggerakkan saya menjelajahi sumber-sumber informasi, mencari jawaban. Ikuti penelusuran Solidaritas!

Berdasarkan data yang saya himpun, laju perubahan atau alih fungsi lahan di Bali mencapai 1000 hektar per tahun. Bahkan beberapa sumber informasi menyebutkann 2000 hektar per tahun. Sedangkan persediaan lahan pertanian Bali sekitar 80.000 hektar. Tanah-tanah yang dulu menghasilkan panen yang berlimpah kini telah ditumbuhi beton-beton bangunan.

Pengembangan sektor pariwisata ditengarai sebagai faktor utama alih fungsi lahan pertanian di Bali. Fasilitas pariwisata seperti hotel dan restoran tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Tak hanya di atas tanah-tanah subur– di pinggir-pinggir jurang, di tepi-tepi sungai, di pesisir-pesisir pantai bahkan di lereng-lereng gunung ia tumbuh.

Menurut Dr. Gusti Ngurah Alit Susanta Wirya, SP., M.Agr., Pengajar di Fakultas Pertanian, Universitas Udayana, alih fungsi lahan pertanian di Bali disebabkan minimnya perlindungan terhadap petani.

Perlindungan yang dimaksud, semisal insentif berupa mengurangan pajak lahan pertanian bagi mereka yang masih menggarap sawahnya. Perlindungan lain, yakni dalam bentuk asuransi pertanian. Bila petani sewaktu-waktu gagal panen, setidaknya mereka masih bisa bertahan hidup.

“Bila tak ada upaya serius perlindungan terhadap petani, lambat laun mereka akan menjual lahannya. Kalaupun masih ada yang bertahan, lahan pertanian diubah menjadi kos-kosan atau usaha lain yang memberikan untung cepat. Tak mungkin petani bertahan dengan pajak tinggi dan hasil yang tak seberapa,” tutur Susanta Wirya.

Ni Luh Ketut Kartini, Akademisi sekaligus Direktur Bali Organic Association (BOA), memandang perlindungan terhadap alih fungsi lahan pertanian harus mulai dari bawah, yakni di tingkat Subak dan Desa Pakraman.

Menurut Kartini, justeru lolosnya penjualan lahan selama ini dari sana. Ketika dibeli oleh investor, lahan dilepas. Selanjut perlindungan di tingkat pemerintah, melalui undang-undang dan perturan lain perlu dilakukan.

“Proteksi harus mulai dari bawah. Seperti contoh di Desa Penyabangan, warga boleh menjual lahan, asal pembelinya warga desa pakraman di situ. Kemudian lahan tersebut tidak boleh dialihfungsikan. Hal itu diatur melalui awig-awig,” ungkap Kartini.

Kartini juga menyoroti pelaksanaan otonomi daerah yang bertumpu pada kabupaten/kota menjadi penyebab besarnya alih fungsi lahan. Menurutnya, kabupaten/kota berloba-lomba menaikan PAD. Jurus paling jitu kepala daerah untuk meningkatkan PAD, yakni memberikan kemudahan sedemikian rupa kepada investor. Termasuk investasi yang menggeser lahan pernaian.

Menurut Kartini, otonomi sebaikanya bertumpu di provinsi agar tak terjadi persaingan tak sehat antar kabupaten. Tata ruang harus dikembalikan pada provinsi. Dengan demikian Perda RTRW Provinsi Bali sebagai upaya perlindungan terhadap lahan pertanian tidak ditolak oleh kabupaten/kota.

Solidaritas merasa perlu bicara dengan pengambil kebijakan di Dinas Pertanian Provinsi Bali dan Dinas Pariwisata Provinsi Bali. Sebab dari informasi narasumber sempat menyinggung beberapa hal menyangkut kebijakan kedua instansi tersebut.

Maksud hati ingin meminta informasi dan memberi ruang pembelaan, karena telah disinggung-singgung. Tapi apalah daya, birokrasi yang berbelit-belit membuat saya susah menemui pemangku kebijakan di kedua instansi tersebut. Ada perasaan bersalah pada Made Togar yang semakin renta, sebab tak tundas beri jawaban. Tapi, penelusuran belum berakhir. (Muammar K.) – dimuat di Majalah Solidaritas Vol. 6.


Foto : Dr. Gusti Ngurah Alit Susanta Wirya, SP., M.Agr., Pengajar di Fakultas Pertanian, Universitas Udayana

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon