Kamis, 12 Juli 2012

Refleksi Enam Tahun Reformasi

Wah, senang sekali rasanya ketemu lagi tulisan-tulisan lama saya. Tulisan ini saya dapatkan kembali di Rubrik Kolom Majalah Kertha Aksara Fakultas Hukum Unud, edisi 15, tahun 2004. Selain memuaskan rasa rindu saya pada tulisan-tulisan lama, juga sebagai ajang menyelami kembali basis berpikir tempo dulu. Mungkin juga berguna bagi para sahabat.
Suatu waktu memimpin Aksi
Soeharto menjadi simbol kediktatoran penguasa Orde Baru. Sebaliknya, moment kejatuhannya 21 Mei 1998 menjadi simbol perubahan, yang kemudian dikenal sebagai era Reformasi.

Enam tahun sudah reformasi berjalan. Reformasi yang ditandai dengan lengsernya Soeharto dari tahta kepresidenan menjadi tonggak sejarah baru dalam kehidupan demokrasi di Indonesia.

Kejatuhan Sang Jederal Besar diharapkan membawa perubahan dalam segala aspek kehidupan bangsa. Harapan itu muncul tatkala penderitaan rakyat berada di titik klimaks. Krisis multidimensional ditengarai bobroknya sistem ketatanegaraan masa lalu.

Sistem pemerintahan bercorak sentralistik, penyelenggara Negara bermental korup, penegakan supremasi hukum lemah, Negara melakukan kekerasan terhadap sipil, dan monopoli ekonomi oleh kelompok tertentu adalah segala persoalan yang ingin diakhiri oleh reformasi.

Enam tahun telah berlalu. Entah mengapa laju reformasi semakin hari semakin lamban. Tentu kondisi ini membuat mereka yang berharap, terutama korban kekerasan Orde Baru gergetan, bahkan menyakitkan. Sepertinya kendaraan reformasi masih penuh sesak dengan penumpang lama.

Jika reformasi dipahami sebagai penataan kembali segala aspek kehidupan bangsa, maka tidaklah berlebihan jika di usianya yang keenam ini dijadikan momentum merenung diri. Terdapat sejumlah pertanyaan yang harus dijawab generasi kita. Sudahkah agenda reformasi dijalankan sepenuhnya? 

Enam agenda besar reformasi nyaris tak terealisasi. Cerita perebutan kekuasaan menjadi menu utama di halaman media massa. Mereka yang mengaku pahlawan reformasi kini tak terdengar lagi suaranya. Mungkin kursi empuk kekuasaan telah melalaikan mereka. Mereka yang kini duduk di parlemen sebagai produk pemilu reformasi seakan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.

Enam tahun tak menghasilkan manfaat bagi yang lemah. Lihat! Di pinggir-pinggir jalan utama setiap kota jumlah gelandangan dan pengemis semakin bertambah. Biaya pendidikan semakin mahal menjadi menu obrolan setiap hari. Penyelesaian kasus HAM tak terdengar lagi. Di beberapa daerah kita saksikan congkaknya Negara melakukan kekerasan terhadap sipil.

Reformasi memang sedikit membawa perubahan. Yah, perubahan bagi segelintir elit. Mereka yang pandai memainkan sandiwara reformasilah yang meraup untung. Mereka berwajah asli Orde Baru dengan manis memakai topeng reformasi.

Di penghujung tulisan ini, saya ingin menarik benang merah dari benang kusut reformasi. Sesungguhnya reformasi gagal dalam esensinya sebagai mesin perubahan. Namun, bagaimana pun, kita sebagai generasi penerus tentu tak mudah menyerah begitu saja. Mari tetap rapatkan barisan solidaritas. Persenjatai hasrat dan imajinasi dengan harapan menjadikan bangsa ini lebih baik. Semoga!

Comments
2 Comments

2 komentar

Terimakasih telah mengikuti artikel saya. Semoga memberimanfaat atas gagasan perubahan negeri yang tengah "salah urus" ini. Dan semoga tantonga parewa tetap menyuarakan aspirasi akar rumput yg selama ini hanya jadi pelengkap penderitaan dan alas kaki mereka yang berkuasa. Salam untuk semua kru Tantonga Parewa.

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon