Rabu, 25 Juli 2012

Petani Yang Terpingirkan

Pembangunan semakin medesak lahan pertanian
“Saya tidak tahu harus kemana lagi, kalau sawah-sawah yang saya garap sekarang ini dijual oleh pemiliknya. Sebelumnya ada sepuluh petak sawah yang saya garap. Sekarang tinggal dua petak. Saya tidak bisa protes sebab saya hanya menggarap dan berbagi hasil dengan pemilik tanah. Rata-rata sawah yang telah dijual dipakai bangun hotel dan villa. Rencananya, yang satu petak ini untuk bangun kos-kosan,” ungkap Wayan Nusa (50).

Dua petak sawah garapan Wayan Nusa ditanami jagung manis berumur dua minggu. Tanah garapanya terletak di seputaran Jalan Tukad Bilok, Sanur, Denpasar. Tembok-tembok tinggi menegaskan batas antara pemukiman dan sawah. Wayan Nusa sengaja tak menanam mepet tembok, sebab tanaman jadi kerdil tak mendapat cukup sinar.

Untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman, Wayan Nusa menggali sumur sendiri. Saluran irigasi yang dulu mengalir di sawah garapannya telah ditimbun bangunan pemukiman. Pria yang telah menggarap sawah selama 20 tahun itu mengaku tak berani ngototminta buka saluran irigasi, sebab di wilayah sawah garapannya tinggal sedikit lahan. Pasti tidak didukung warga.

“Dulu sewaktu ada saluran irigasi, saya masih bisa tanam padi. Sekarang saya hanya tanam tanaman yang tak terlalu membutuhkan banyak air, seperti jagung, sayur-sayuran dan cabai. Saya masih bisa menimba air dari sumur untuk menyiramnya. Hasil panen sekarang juga menurun karena keadaan tanah tercemar sampah sekitar. Selain itu juga tanaman jadi rentan penyakit,” ungkap Wayan Nusa.

Apa yang dialami Wayan Nusa telah menjadi fenomena di kalangan petani Bali. Terhimpit dan terdesak oleh pembangunan fisik menjadi permasalahan tersendiri. Beberbagai kalangan menilai kondisi yang demikin sengaja dibiarkan. Petani tak berdaya, pelaku pariwisata berjaya.

Menurut Agung Alit, sekretaris Forum Fair Trade Indonesia dan Direktur Mitra Bali, sebetulnya tak ada orang Bali yang mau jual lahan. Ada kekuatan yang membuat dia tergusur. Pemilik lahan yang berlokasi di kelas I, dikenakan pajak tinggi. Karena pemilik lahan hanya seorang petani miskin, tak bisa bayar pajak, akhirnya lahan ia jual.

“Begitulah pemikiran rakyat kecil. Kalau dia jual, yah habislah. Nggak adil kita nyuruh orang jadi petani, sementara subsidi tidak ada. Pemerintah hanya berbicara tentang pemberdayaan sektor pertanian. Petani kan sudah jago. Dari menanam sampai panen dia sudah jago. Tapi kalau dia disuruh jadi marketing, mati dong! Mestinya kan pemerintah. Belum lagi kalau ia gagal panen,” ungkap Gung Alit.

Agung Alit menilai, persoalan ketergusuran petani lokal merupakan efek dari perdagangan bebas atau free trade. Siapa di balik free trade ini? Yah, koorperasi. Dibalik kooerporasi ini ada legal statusnya.

“Koorperasi sama seperti kita. Dia boleh berinvestasi. Dia yang melemahkan negara. Jangankan kita, sekarang ini sedang krisis Amerika, krisis Eropa semua itu free trade penyebabnya. Mereka boleh mendapatkan subsidi. Sementara rakyat kecil merengek-rengek minta subsidi. Dimana keberpihakan Negara?” tutur Agung Alit dengan nada tinggi.

Made Suarnata, Direktur Yayasan Wisnu mengajak kita menegok kembali masa silam, mengingat kembali kejayaan pertanian Bali. Menurutnya, Bali merupakan pulau kecil. Semanjak dulu berbasis pada pertanian. Makanya, ada subak sebagai organisasi pertanian tradisional. Pulau ini pernah mencapai swasembada beras. Walaupun kepemilikannya kecil-kecil, terbukti Bali pernah surplus dan pernah mengeksport beras pada tahun 1970-an.

“Pada waktu itu orang tidak sampai berfikir bahwa air akan kurang. Tak kebayang seperti itu. Wong airnya begitu melimpah. Nah, itu adalah sebuah sistem. Bagaimana masyarakat lokal itu mengelola sebuah lahan yang mengaktualisasikan pola-pola hubungan dengan alam itu. Sehingga menghasilkan ekspresi kultur yang berbasis pada pertanian,” kata Suar.

Suar menambahkan, kalau dilihat dari ekspresi simbolis kebudayaan Bali, misalnya beragama Hindu atau beragama Tirta. Kemudian simbol kultur itu tergambar dari karya-karya seni yang dihasilkan. Dan itu menarik hal baru yang dibungkus dengan industri kepariwisataan. (Muammar K.) – dimuat di Majalah Solidaritas Vol. 6.

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon