Sabtu, 28 Juli 2012

Pasar Ikan Kedonganan

Nelayan mengangkat sampan usai melaut.
Siang itu, sinar matahari menyengat kulit. Angin pantai berhembus kencang, seakan berusaha menghalau hawa panas. Di Pasar Kedonganan, orang-orang sudah terbiasa dengan kondisi ini.

Penjual ikan tampak sibuk mengatur barang dagangan, kadang dipercikan dengan air laut agar ikan tetap segar. Pembeli asyik mimilih dan menawar. Sementara para nelayan sibuk menyiapkan perahu, menunggu sore untuk berburu rezeki dari laut lepas.

Pasar Ikan Kedongan terletak di perkampungan nelayan Kedonganan, Jimbaran, Bali, sekitar 3 kilometer dari Bandara Internasional Ngurah Rai, ke arah selatan.

Saat sore tiba, beberapa perahu nelayan tampak merapat ke bibir pantai. Rupanya mereka mengais rezeki di laut sejak pagi. Memang tak biasanya, sebab nelayan bisa melaut pada malam hari dan kembali pagi hari. Satu perahu biasanya terdiri dari dua sampai tiga orang nelayan.

Saat menyandar, mereka harus bekerja keras menarik perahu ke pinggir pantai. Namun, tak usah khawatir, sebab nelayan sekitar pantai spontan turut membantu, walau tak diminta. Kehidupan warga sekitar Pasar Kedonganan tampak rukun, meski mereka berasal dari berbagai suku dan daerah.

“Warga di sini terikat oleh kepentingan untuk saling menjaga sumber kehidupan mereka, yakni pasar. Masing-masing sudah tahu apa yang harus dilakukan. Misalnya, nelayan yang baru pulang melaut tak boleh menjual langsung tangkapannya ke pengunjung pasar, melainkan dijual pada ibu-ibu pedagang di pasar. Kalau dijual langsung, itu sama artinya memangkas rezeki pedagang. Jadi, biarkan pengunjung pasar membeli ikan pada pedagang saja,” tutur Briptu. I Made Sumantra, petugas kepolisian setempat,yang saya temui saat makan siang di warung Bu Marbu’ah.

Warung Bu Marbu’ah, terletak di tengah-tengah pasar sembako, biasa disinggahi nelayan dan pedagang sekitar. Pengunjung warung saling berbagi cerita, sembari menunggu sajian makan siang. Pedagang membicarakan harga sembako yang semakin melonjak. Sedangkan nelayan saling membagi peta wilayah tangkapan.

Tak jarang pula mereka saling menceritakan keadaan keluarga. Tentang anak-anak mereka yang sekolah, tentang kebutuhan hidup yang semakin meningkat, atau tentang keadaan keluarga di kampung asal. Semuanya menjadi cerita yang mengiringi dinamika kehidupan pasar.

Tak jauh dari pasar ikan, masih berada di garis Pantai Jimbaran, berdiri puluhan restoran seefoodyang sangat terkenal di Bali. Terkenal karena menu ikan segarnya. Lebih terkenal lagi, karena tempat yang ramai dikunjungi wisatawan manca negara tersebut menjadi sasaran aksi biadab teroris tahun 2005.

Pasar Kedonganan dulu hanyalah pantai biasa tempat nelayan menyandarkan perahu sehabis melaut. Lambat laun berubah menjadi pasar ikan. Tak sampai di situ saja, kawasan sekitar pun menjadi kawasan strategis sebagai pusat bisnis. Lahan gersang dulu yang sepi penghuni, kini menjadi kawasan yang bernilai tinggi, jadi incaran pebisnis.

(Tulisan dimuat di Majalah Bisnis M&I)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon