Senin, 09 Juli 2012

Mau Dibawa ke Mana Bangsa Ini?

Ilusrasi. Istana Merdeka
Beberapa hari ini kebetulan saya punya banyak waktu luang selepas dari rutinitas. Mencari informasi terabru tentang perkembangan daerah Bima satu-satunya cara saya melepas rindu pada kampung halaman. Kupacu langkah mouse, tancap gas, langsung  menuju Grup Bima Institute, salah satu grup yang kerap membagi informasi Bima terkini.

Alhasil, saya menemukan beberapa topik diskusi yang menarik. Saya pun tergoda mendokumentasikan kembali. Saya edit kembali beberapa diskusi tanpa menghilangkan maknanya. Hanya untuk (subyektif) enak dibaca kembali.

Pada tanggal 25 Juni, pukul 16.31 lalu. Di grup Bima Institute, Mujiburahmman Mbojo melempar status di Grup Bima Institute. Status Mujibur dusukai oleh Sembilan orang anggota Grup dan mendapat 21 komentar. Tidak main-main, diskusi ini berlangsung selama tiga hari.

Mujibur bilang, perasaan bangsa ini harus digerakan; kepekaan bangsa ini harus dibangkitkan; kepantsan bangsa ini harus di usik; kemunafikan bangsa ini harus di singkap. Dan kejahatan terhadap Tuhan dan manusia harus disiarkan dan dikecam. Tak ada negara lain di muka bumi ini yang kesalahanya melebihi tindakan kasar dan kejamnya Indonesia saat ini,,,.

Tak lama berselang, Beks Al-Soky langsung menyambut umpan Mujiburahmman. “Mari kita kampanyekan bubarkan negara. Yang ditawarkan masyarakat tanpa Negara,” ungkap Beks.

Ihsan San nampaknya terpancing dengan pernyataan Beks. Malah mempertanyakan alasan pernyataan Beks. Ihsan menyampaikan bahwa berdirinya suatu negara beradasarkan 3 syarat yaitu: pertama, adanya wilayah atau region. Kedua, adanya rakyat atau warga negara, dan yang ketiga adanya pengakuan dari negara lain. Jadi kalau mau membubarkan Negara, syarat-syarat  di atas harus dipenuhi dulu. 

“....yang menjadi pertanyaan kenapa negara harus dibubarkan, apa salahnya negara? Saya rasa bukan negaranya yang harus dibubarkan. Tapi, orang-orang yang merusak negaralah yang harus di basmi. Coba Anda bayangkan kalau sampai nagara ini bubar?.......tolong dijawab?” tutur Ihsan mempertanyakan.
Mungkin bermaksud mencairkan suasana, Scorp Ilham Tirta seakan numpang lewat. “ehehe,,,lanjutkan,” kata Tirta.

Mujiburahmman Mbojo kembali masuk. “Beks Al-Soky; saya sepakat saudra,,,, dari pada kita hidup bagaika di karangkeng, lebih baik kita hidup tampa negara saudara,,, kita ingin bebas lah dengan potensi nalar rasio kita,,,,” kata Mujibur seakan memperkuat pandangan Beks.

Pendapat di atas lansung dibantah oleh Ihsan San. Kata Ihsan, itu sesuatu hal yang mustahil di jaman modern kaya gini. Hidup tanpa negara di jaman Rasulullah saja, negara itu sudah ada cuma sistem pemerintahannnya saja yang berbeda. Adanya sebuah negara saja yang mengatur sistem hukum negara masih dilanggar oleh masyarakat, apa lagi tidak adanya sebuah negara yang mengatur sistem hukum, maka hukum rimbalah yang berlaku.

“......masalah kebebasan saya rasa negara sudah memberikan kebebasan yang luas kepada masyarakat dengan adanya HAM. Tapi kebebasan itu jangan disalahartikan harus berbuat bebas sebebas-bebasnya. Ada norma-norma agama yang tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat kita. Kita bukannya negara yang menganut paham liberal, di mana kaidah-kaidah agama dikesempingkan,” tutur Ihsan semakin berapi-api.
Ardiansyah Ina Nai rupanya tergoda dengan diskusi ini. “Indonesia adalah negara budak...Beks Al-Soky. ‘Kampanyekan’ bukan ‘kampangekan...berusaha memperbaiki jangan trsinggung. Terimalah kritikn supaya lebih dewasa...Niat yang positif,” ungkap Nai dengan bijak. 

Sementara itu, Fathurrahman AL-Farabbi menanggapi singkat. “Diskusi pajang,,,,harus di budayakan,” ungkapnya.

Mahfud M Said turut berkomentar. Ia bilang bahwa sistem yang dianut Indonesia saat ini yang menyebabkan dirinya hancur, tidak PD (percaya diri) sehingga selalu bergantung dengan Negara Lain. “Basmi tikus-tikusnya, ganti sistem Negar nya, bukan Negaranya yang di bubarkan,” himbau Mahfud. 

Man Ngali Fc menyatakan setuju dengan pendapat di atas.

Scorp Ilham Tirta kembali masuk. Mungkin sudah tak tahan dengan godaan dinamika diskusi yang semakin hangat. “Menurut all of my beloved brothes, Indonesia ini harus bagaimana, sih? Mudah-mudahan kita sudah memahami setiap sendi-sendi keropos bangsa ini. Kita tidak bisa mengubah bangsa ini dengan memakai cara-cara bangsa lain. Kita bukan Cina dengan korupsinya, bukan pula Bolivia dengan nasionalisasi industrinya...” tutur Tirta memancin peserta lain memasuki bilik analisa bagian dalam.

Ihsan San tak mau menunggu lama. Ia langsung menyambut. Ia bialang, jalankan amanah rakyat dengan jujur dan patuh terhadap hukum yang sudah termaktum dalam UUD 1945. Insya Allah negara ini pasti akan sejahtera.

Ardiansyah Ina Nai sangat singkat. “Mitosss...,” Cuma itu yang ia katakana. Pun Ghinoe Ma Ndolo. “Bikin pusing lihat pemimpin yang cuma mikirin selangkangan.” Waduh! Sudah mulai menjurus kelihatannya.

Syam Syam Syamsuddin tampak gemas. Syam pun mulai ambil bagian. Menurut Syam, kita dalam perjalanan menuju kemakmuran entah berapa hari, minggu, tahun, atau 1000 tahun lagi. Yang perlu dijaga hanyalah jangan sampai kita berbuat hal-hal yang gegabah dan tak masuk akal. 

“Kepada yang kecewa dipesankan agar mereka tetap sabar dan jangan mengganggu apalagi membunuh garuda bertelur emas, karena pasti telur emas itu akhirnya akan sampai juga pada mereka. Dan bagi si kaya dipesankan agar sekali-kali menolong si miskin, karena inilah caranya menjadi lebih kaya lagi..hehehe...” ungkap Syam memecah persepsi. 

Ardiansyah Ina Nai kembali dengan pernyataan singkat. “Kemakmuran hanya dalam khayalan...,” ungkapnya dengan nada pesimis. 

Mahfudz Mahzamulmenjelaskan bahwa sebenarnya kita sudah ketahui bersama bahwasanya tujuan dari negara kita dimuat dalam UUD 1945 alinea ke 4. “Semuanya sudah jelas mengenai tujuan negara,
tentunya untuk mewujudkan tujuan tersebut. Membutuhkan waktu yang tidak singkat. Harapan saya, dalam mainset kita jangan pernah menyalahkan system. Karna sebagus apapun suatu sistem apabila did alamnya terisi oleh SDM yang senantiasa berpikir untuk kepentingan pribadi atau golongan mustahil tujuan yang ingin kita capai bersama kita gapai,,??” tutur Mahfud..

Setelah sekian lama berkelana, akhirnya Ghinoe Ma Ndolo merasa terpanggil untuk ambil bagian. Menurutnya, sistem itu dibuat dengan ketidak-ikhlasan, sehingga perjalananya sistem itu melahirkan banyak kemelut. “Ujung-ujungnya, banyak yang saling menyalahkan, sejarah yang berbicara. Percaya atau tidak, itu terjadi. Selama figur-figur yang kita harapkan tidak bisa menyatukan smua elemen, jangan harap Indonesia jaya. Kira-kira begeto,” ungkap Ma Ndolo.

Nah, akhiya Abang kita yang satu ini. Berdasarkan pengamatan editor di Grup ini, ia cukup aktif di awal-awal berdirinya grup, yakni tiada lain dan tida bukan adalah Bima Zuraid.  “Mari mulai dari diri kita masing-masing, lakukan apa yang bisa kamu lakukan agar yang lain bisa ikut ambil bagian!” ungkap bang Zuraid beri pesan.

Di ujung diskusi, Syam Syam Syamsuddin menutup dengan closed statement, “Manusia memiliki berbagai kebutuhan dan cita-cita kadang tak terpuaskan. Dan di dalam diri manusia tertanam suatu kebutuhan yang dalam akan adanya "kepastian'. Oleh karena itu manusia berhak hidup di dalam sebuah dunia yang mengandung makna. Menghormati hal ini merupakan suatu keharusan moral bagi kebijaksanaan politik,” ungkapan Syam mengakhiri diskusi pada 29 Juni, pukul 17:50

Diskusi pun berakhir dengan kesimpulan masing-masing. Dua hal yang menjadi catatan editor selama mengikuti dinamika diskusi ini, yang pertama ialah apapun persepsi yang digunakan oleh masing-masing narasumber merupakn suatu bentuk perhatian sungguh-sungguh terhadap nasib bangsa ini. Kedua, sebaik-baiknya system, tetap harus ditunjang oleh SDM yang mumpuni sebagai penganut sistem tersebut. (MK)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon