Sabtu, 28 Juli 2012

Koperasi Tani Amerta Nadi

Sapi milik anggota Koperasi Amerta Nadi
Upaya Menuju Kemandirian Pangan dan Energi

Siang itu udara sejuk membelai kulit saat saya memasuki Br. Penyabangan, Payangan, Kabupaten Gianyar. Rimbun pepohonan, padi nan hijau dan gemericik air di parit membuat pemandangan kian indah.

Sebuah papan kecil bertuliskan Koperasi Tani (Koptan) Amerta Nadi terpampang di Jalan Raya Kintamani – Payangan. Ada semangat besar memperjuangkan nasib kaum tani di balik kesederhanaan penampilan fisik Koptan Amerta Nadi.

Cita-cita menuju kemandirian pangan dan energi bukan isapan jempol belaka. Koptan Amerta Nadi merealisasikannya dalam bentuk pengucuran kredit bagi petani yang mengalami kesulitan modal untuk menggarap lahan.

“Setiap musim tanam tiba, petani selalu dihadapkan pada persoalan yang sama, yakni kesulitan modal untuk menggarap lahan. Hal inilah yang melatarbelakangi pendirian koperasi ini. Kebetulan seluruh anggota yang berjumlah 98 orang saat ini berasal dari satu subak (red: kelopok irigasi tradisional Bali) yang sama, yakni Subak Amerta Nadi. Sejak awal, koperasi ini dibangun dengan semangat kolektif,” ungkap Nyoman Suardana, Manager Umum Koptan Amerta Nadi.

Selain memberikan kredit untuk penggarapan lahan pertanian, Koptan Amerta Nadi juga memberikan Kredit untuk membantu biaya upacara adat. “Penyelenggaraan upacara adat kadang menjadi kebutuhan yang tak terduga dalam keluarga. Dana yang tersedia kadang belum mencukupi. Untuk membantu keluarga yang menyelenggarakan hajatan, Koperasi memberikan pinjaman kredit untuk menambah kekurangan dana,” ungkap Suardana.

Usaha lain yang dilakukan oleh Koptan Amerta Nadi adalah melakukan pembelian hasil pertanian. Gabah kering panen dibeli dengan harga Rp 3.500/kg. Sedangkan jagung dibeli dengan harga Rp 3.000/kg. Padi yang telah digiling menjadi beras dijual dengan harga Rp 6.500/kg. Koperasi baru bisa menampung 25 ton gabah kering setiap musim panen yang berkisar pada bulan Januari dan Bulan Agustus.

Proses penggilingan dilakukan di mesin penggilingan padi milik koperasi. Mesin penggiling dan gudang penampungan hasil pertanian terletak tak jauh dari kantor koperasi. Mesin tersebut memiliki kapasitas produksi beras hingga 3,5 ton per hari.

Kemandirian Energi

Komitmen Koptan Amerta Nadi menuju kemandirian energi juga tampak jelas. Kebetulan baru-baru ini, di wilyah Br. Penyabangan dijadikan daerah percontohan pemanfaatan biogas rumah (Biru). Program Biru sendiri dikelola oleh Hivos atas dukungan Pemerintah Belanda.

Koptan Amerta Nadi ikut berperan dalam menyukseskan program ramah lingkungan ini. Bagi keluarga yang ingin memiliki biogas akan diberikan subsidi 2 juta rupiah per unit dari Biru. Sedangkan total dana yang diperlukan untuk membangun reaktor dan instalasi biogas setidaknya menghabiskan 6 juta rupiah per unit.

“Bagi keluarga yang tak memiliki uang untuk menambah biaya pembangunan infrastruktur biogas, tak usah khawatir. Saat ini koperasi dapat memberikan pinjaman kredit,” kata Suardana.

Saat ini sudah ada 7 keluarga yang mendapat kucuran kredit dari Koptan Amerta Nadi untuk membangun rekator biogas. Menurut Suardana, sementara ini, Koptan masih bisa menyediakan dana yang dibutuhkan oleh warga yang hendak memiliki biogas. Namun, seiring dengan meningkatnya permintaan, Suardana khawatir , koperasi tak bisa memenuhi semua permintaan.

“Kami berharap ada lembaga keuangan ataupun pihak-pihak yang bisa dijadikan rekanan untuk membantu menyediakan dana kredit bagi masyarakat yang ingin memiliki biogas,” tutur Suardana.

Suardana sangat yakin dengan prospek pembiayaan biogas ini. Menurutnya, masyarakat telah merasakan manfaat biogas. Permintaan kini telah meluas bahkan datang dari desa tetangga.

“Manfaat yang dirasakan, yakni kebetuhan bahan bakar untuk memasak tak perlu repot-repot lagi mencari kayu bakar atau membeli gas yang dijual di pasaran. Selain itu faktor kesehatan dan keselamatan terjamin serta ramah lingkungan,” kata Suardana menjelaskan.

Di lokasi, saya bertemu dengan Ni Nyoman Ramiati, Biogas Promotion Officer Biru Provinsi Bali. Wanita yang kerap disapa Mangming ini menjelaskan, biogas adalah gas dari hasil fermentasi bahan-bahan organik termasuk diantaranya; kotoran manusia dan hewan, serta limbah domestik (rumah tangga). Kandungan utama dalam biogas adalah metana dan karbon dioksida.

Menurut Mangming, biogas memiliki keunggulan nyata, yakni lebih murah dan irit, hemat tenaga, lebih sehat, bersih dan modern. “Biogas dapat digunakan untuk bahan bakar memasak, penerangan dan ampas biogas bisa dijadikan pupuk organik.

Biogas Ramah Lingkungan

Maming dan Suardana mengajak saya melihat langsung salah satu reaktor biogas milik warga yang dibiayai oleh Koptan Amerta Nadi. Reaktor biogas milik Wayan Ranti tersebut memiliki daya tampung 10 kubik bahan biogas dari kotoran ternak.

Sistem kerja reaktor biogas sangat sederhana. Di dekat kadang sapi terdapat bak penampung kotoran sapi. Sebelum di salurkan ke tangki reaktor melalui pipa, kotoran sapi tersebut dicampur dengan air dalam perbandingan seimbang (1:1), dicampur menggunakan mixer. Biogas yang menggunakan kotoran babi tak perlu menggunakan mixer.

Bagian atas rekator berbentuk kubah. Sengaja dibuat demikian untuk memberikan ruang reaksi terciptaya biogas. Diatas kubah dipasang pipa yang dilengkapi dengan katup gas. Pipa tersebut menyuplai gas menuju alat kompor gas di dapur. Setiap hari setidaknya diperlukan 30 kg kotoran ternak (sapi atau babi) ditambahkan dalam reaktor untuk mencukupi kebutuhan harian biogas rumah tangga.

Wayan Ranti, pemilik rumah yang kami kunjungi tiba-tiba muncul dari kebun dekat rumahnya. Ia menjinjing sebuh keranjang berisi buah jeruk segar. “Ini sekedar untuk bapak-bapak dan ibu. Jeruk ini ditanam dan dirawat dengan bahan organik, menggunakan pupuk dari ampas biogas,” ucap Wayan dengan wajah sumringah.

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon