Selasa, 31 Juli 2012

Kerajinan Bali di Era Industri

Ubud – Gemerlap Industri pariwisata Bali telah menggeser pola pikir pengrajin; dari produksi kecil-kecilan menjadi produksi massal. Dan, ketika pertarungan bermain di tingkat modal, mereka yang kalah terpaksa minggir. Pengrajin kecil berubah status menjadi pekerja di industri kerajinan. Kalau pun masih ada yang bertahan, hasil karya mereka terpaksa disetorkan pada tengkulak kerjinan bermodal besar.

Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, realisasi nilai ekspor berbagai produk kerajinan Bali ke 84 negara tujuan mencapai USD519,01 juta sepanjang 2010 lalu. Angka tersubut tentu sangat menggembirakan. Dengan demikian apakah pengrajin kecil lantas mendapatkan dampak positif? Pihak-pihak mana sesungguhnya yang menikmati besaran angka tersebut? Swaberita coba menelusuri dari hilir pengrajin Bali.

Sinar matahari menyengat kulit siang itu. Sepanjang jalan Desa Sebatu, Tegallalang, Gianyar tampak warga yang sebagian besar pengrajin sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Putu Dharma (43) tak mau ketinggalan. Berpacu dengan waktu untuk menghasilkan barang kerajinan bermutu tinggi, sesuai permintaan pasar.

Patung kuda menjadi karya andalan Putu Dharma. Keterampilan membuat patung kuda diperoleh secara turun temurun dari mendiang ayahnya. Dharma mengembangkan karya andalanya secara otodidak sejak 15 tahun yang silam. Meski karyanya berkembang, Dharma tak lantas mendapatkan untung besar.

Menurut Dharma, akhir-akhir ini para pengrajin di desanya sudah jarang mendapatkan pesanan dalam jumlah besar. “Yang untung mereka yang punya jaringan pasar luar negeri dan rajin promosi. Kebanyakan pengrajin di sini belum punya kemampuan untuk itu, sebab butuh modal gede. Modal kita pas-pasan, hanya sampai untuk produksi barang saja,” ungkap Dharma.

Kisah Wayan Suwandi (54) lain lagi. Dulu ia dikenal sebagai pematung ulung di desanya. Ratusan patung batu dalam berbagai bentuk lahir di tangannya. Tahun 90-an ia sempat membuka usaha sendiri. Hasil karnya di pajang di halaman rumah.

Suwandi tidak mengambil untung banyak dari patung hasil pahatannya. Patung berukuran 1 sampai 1,5 meter membutuhkan bahan berupa batu ataupun batu cadas. Harga bahan baku batu untuk pembuatan patung dengan ukuran ini sekitar Rp 2 juta hingga Rp 2,5 juta rupiah. Pengerjaan patung sampai jadi biasanya menghabiskan waktu 12 sampai 17 hari. Patung dijual dengan harga 3 juta sampai 3,5 juta rupiah.

Menurut Suwandi, pembeli patung batu memang tak datang setiap saat. Modal agak lama berputar, tapi membuat patung batu tak ada ruginya, sebab semakin lama harga patung batu semakin naik oleh karena bahan baku batu yang terbatas. Tak seperti patung kayu yang bahan bakunya masih bisa ditanam. Patung batu akan menjadi semacam benda antik. Menurutnya, patung batu juga bisa dijadikan investasi jangka panjang.

“Saya tak punya modal yang cukup untuk teruskan usaha saya. Jadinya, terpaksa ya, saya kerja ikut orang saja. Ya, kalau nanti ada yang mau ngasih modal, saya mau buat usaha sendiri lagi. Mumpung bahan baku batu belum terlalu langka. Entah kapan? Saya berdo’a saja,” ungkap Suwandi pasrah.


Ketika Kerajinan Menjadi Komoditi

Agung Alit, penggagas Mitra Bali Fair Trade, mengungkapkan bahwa Bali dalam sentuhan pariwisata tidak hanya membuahkan kelas menengah baru terutama di kalangan pengrajin, namun juga sikap yang sangat konservatif dalam berkebudayaan.

Keuntungan yang didapat dari para tengkulak kerajinan luar negeri, merupakan bukti, bahwa kebudayan Bali memang layak jual, sehingga tidak perlu dikritik dan diotak-atik, tinggal melanjutkan apa yang sudah ada. Jika ada yang mengkrik akan dicap anti-pembangunan dan subversif, dan atas nama ’pelestarian’ mereka tak tanggung-tanggung mengeluarkan dana dan tenaga.

Ketika serangan order datang bertubi-tubi, kerajinan menjadi komoditi. Mode of production akan mengikuti ritme industri dan sang perajin selaku subjek ‘pemilik’ kreativitas terbingkai dalam relasi buruh-majikan dengan ikatan deposit dan deadline. Kreativitas terpasung dan mengikuti tuntutan pasar. Perajin bersalin peran menjadi penjaja, yang menawarkan adonan estetika kerajinannya kepada sang raja; para tengkulak berdasi, baik lokal dan internasional.

Kerajinan sebagai media imaginasi dan kreasi bergeser menjadi ruang-ruang alienasi dan eksploitasi. Alienasi muncul karena sang perajin tidak lagi bermain-main dengan kreativitas, karena tak lagi ada waktu luang, kalaupun ada permainan kreativitas tak lagi liar karena harus tunduk dan tertib pada tuntutan pasar.

“Sentuhan Bali dengan pariwisata juga membawa kategori baru antara ‘seni, dan ‘kerajinan’. Seni ada di museum dan galeri di Ubud, sedangkan kerajinan ada di Tegalalang dan Pasar Sukawati. Soal debat "seni" dan bukan "seni"(baca kerajinan) sudah menjadi medan pertempuran yang cukup panjang oleh orang-orang sekolahan yang sampai sekarang belum juga tuntas,” ungkap Agung Alit.

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon