Rabu, 25 Juli 2012

Keamanan Sanur - Berangkat dari Kesadaran Kolektif

Anggota Yayasan Pembangunan Sanur.
Agustus 2011. Tiga puluh orang peserta duduk rapi di barisan kursi menghadap meja depan. Di balik meja itu ada empat orang pria. Masing-masing Bobby Ganaris, pemandu acara; Gunadjar, Direktur Yayasan Manikaya Kauci (YMK); Ida Bagus Sidartha, Ketua Yayasan Pembangunan Sanur YPS) dan Ida Bagus Paramartha, SH., Kepala Desa Sanur Kaja.

Tampak dua kursi kosong yang sedianya diisi oleh Kapolsek Denpasar Selatan dan perwakilan Kesbang Linmaspol Bali. Sayang keduanya tak hadir dalam diskusi bertajuk sistem keamanan swakarsa tersebut. Diskusi berlangsung alot di lantai dua, ruang pertemuan YPS, akhir September lalu.

Di awal pembicaraan, Gunadjar memaparkan bahwa berkaitan dengan program Polmas (Perpolisian Masyarakat) tengah dijalani oleh lembaganya, Sanur menjadi contoh yang baik dalam melaksanakan sistem keamananan swakarsa masyarakat.

“Kami berharap kita bisa berdiskusi mengenai sistem keamanan swadaya masyarakat Sanur. Kami mendengar ada Bankamdes, Linmas, Pecalang, juga Pemuda Sanur Bersatu. Bagaimana mengkomunikasikan antar elemen ini. Bagaimana cara-cara yang dilakukan dalam pemetaan konflik. Bagaimana menyikapi kooflik. Bagaimana mengurai akar konflik. Sanur terkenal dengan situasi damai. Kenapa tidak menjadi contoh bagi kawasan-kawasan lain?” tutur Gunadjar

Ida Bagus Sidartha memaparkan, Kondisi damai di kawasan wisata Sanur berakar dari kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Masyarakat Sanur menyadari sepenuhnya, keamanan menjadi syarat mutlak suatu kawasan wisata. Dan, sebahagian besar masyarakat Sanur saat ini bergantung pada pariwisata.

“Selain pihak kepolisian sebagai leading sector dalam menjaga Kamtibmas, kami juga terlibat aktif dengan berbagai pamswakarsa yang telah disebutkan. Setiap malam mereka ronda di masing-masing wilayah. Bila ada hal-hal mencurigakan, segera berkoordinasi dengan polisi terdekat,” kata Sidartha.

Semntara itu, Kepala Desa Sanur Kaja, Ida Bagus Paramartha, SH memaparkan, sejak tahun tahun 1930 Sanur sudah menerima pendatang asing. Artinya, masyarakat Sanur sudah terbiasa bersentuhan dengan orang-orang yang berlatar belakang budaya dan adat istiadat berbeda. Dalam dinamika masyarakat yang pesat, masyarakat sanur bersatu padu, bersama-sama menjaga kamtibmas.

Salah satu peserta sempat mempertanyakan ketidakhadiran narasumber dari kepolisian Polsek Denpasar Timur. Menurutnya, tidak lengkap rasanya membicarakan Kamtibmas wilayah Sanur, tanpa kehadiran pihak kepolisian sebagai penanggung jawab utama.

Menaggapi pernyataan tersebut, Gunadjar menyampaikan bahwa beberapa saat sebelum diskusi dimulai, narasumber dari Polsek Denpasar Timur menyatakan akan hadir. Entah mengapa? Sampai diskusi berakhir pihak Polsek Denpasar Timur yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang.

Meski tak dihadiri pihak Polsek Denpasar Timur dan Kesbang Linmaspol Bali, diskusi berjalan alot. Para peserta saling berbagi pengalaman dalam melaksanakan Kamtibmas di tempat masing-masing. Tim YMK mendapat banyak pelajaran berharga dari Sanur. Kesadaran kolektif menjadi kunci utama dalam menjaga Kamtibmas.

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon