Minggu, 22 Juli 2012

Jero Mangku Ayen

Mengusung Kearifan Lokal dan Tionghoa

“Saya ini orang biasa, jangan saya dibilang orang sakti, saya hanya menekuni apa yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada saya. Saya menganggap semua alam itu adalah saudara saya, baik itu yang berupa roh maupun yang kelihatan”

Orangnya kecil dan polos, tapi semangatnya untuk mewujudkan persaudaraan sungguh luar biasa. Mangku Ayen demikian mereka menyebutnya, adalah figur seorang mangku yang memiliki kepasrahan total terhadap kehendak Illahi melalui tuntunan alam atas dirinya. Sekitar empat bulan lalu ia mementaskan drama Calon Arang di Gases (Gajah Sesetan). Dengan beraninya ia menjadikan dirinya sebagai sesosok mayat yang ditandu ke pekuburan. Apa sesungguhnya motivasi pria Tionghoa berumur empat puluh enam tahun ini mengambil jalan sakral, yang boleh dikatakan cenderung mistis? Sedangkan di tahun 1996 orang lebih mengenalnya sebagai seorang montir dan pengusaha jual beli mobil.

Ditemui di sela-sela makan siang dalam acara Musprov PSMTI ke 3 ruang Intan Hotel Niki, Mangku Ayen menerangkan bagaimana proses ia terpanggil menjadi seorang Mangku China. Suatu waktu datanglah seorang sesepuh dari Abiansemal yang menganjurkan ia agar nyungsungin atau mengabdi pada seorang Dewa atau Dewi sebagai perpanjangan rahmat Ida Sang Hyang Widi di bumi. Anehnya ketika mendengar ujaran itu, tidak seperti kebanyakan mereka yang terpanggil selalu mengambil sikap menolak, Mangku Ayen justru menjadi tenang dan mengikuti apa yang menjadi kehendak Illahi.

Pura Taman Mesir Abiansemal adalah tanda dimana kekuatan adikodarati yang berwujud pada Ia yang dia sembah memiliki perputaran yang lebih cepat dari sungsungan setempat. Hal ini menurutnya dapat dirasakan dari pendapat para tua-tua di sana yang melihat proses inkarnasi pada dirinya begitu cepat. Hanya melalui satu kali proses kelahiran ia telah memperoleh wujudnya kembali sebagai seorang mangku berbeda dengan mereka yang berada di daerah Petang, Plaga, Kintamani, Gianyar dan lainnya yang masih membutuhkan sekitar tujuh hingga delapan kali kelahiran kembali.

Di Bali orang mengenal Mangku Ayen juga sebagai “leak China.” Ia sendiri kurang paham kenapa ia yang tak pernah belajar memerankan leak, tiba-tiba saja mampu melakukannya? Menjawab hal itu, ia hanya dapat mengaitkan dengan nasihat orang tuanya agar jangan mencari kekuatan gaib dalam wujud Dewa atau Tuhan dengan akal namun hendaknya lebih menggunakan rasa.

Dalam kisah yang dimainkan di Gases, perannya adalah sebagai Ratu Ayu Gases. Tokoh ini adalah sosok yang sangat ditakuti. Maka dalam cerita tersebut ia harus menantang berbagai macam kekuatan sakti yang berada di luar arena. Namun bagi Mangku Ayen kesombongan yang beralasan itu tidak lain adalah cara dari kita untuk memberikan berkat melalui sapaan. Diantara kalimat yang seolah menantang, tersurat berkat yang tulus. Sebab ada kalimat yang berarti: “semoga kalian di dalam kehidupan alam semesta bahagia dan dalam kehidupan gaib, semoga kita menjadi saudara,” tutur penganut filosofi De Pang Anake Ngadanin ini.

Bagi Jero Mangku Ayen, hidup adalah nyaya atau memasrahkan diri. Tidak terlalu banyak berpikir tetapi lebih mengikuti alur angin. Ketika harus berpulang kembali ke alam baka orang tidak membawa apa-apa. Semua harta benda menjadi hampa, maka manusia harus banyak berbuat kasih atau berdharma. Sambil menunjukan batu cincin yang dikenakan pada jarinya ia menerangkan bahwa itu adalah salah satu caranya untuk menghaturkan terimakasih pada orang yang sudah memberikan. Bila ditinjau lebih jauh, maka batu yang menempel di jarinya itu tak berarti bila dibandingkan batu mata kita, yang diciptaan oleh Tuhan.

Hubungan Mangku Ayen dengan keluarga dan masyarakat disekitarnya sangat baik. Mulai dari tinggal di Tapakgangsul hingga ditempatnya yang sekarang, ia sering bekerjasama dengan seorang tokoh dari Balingkang yaitu Si Putu Tegeh dan seorang mangku Bali yang bernama Mangku Deka. Uniknya, kawan karib yang bernama Mangku Deka itu justru menyungsung Dewa China sementara dirinya menyungsung Dewa Bali. Dalam ritual yang dilakukan ke tanah Jawa, Mangku Deka sering kali mengajak Jero Mangku Ayen untuk menyunjung Kwan Khong Bio sebagai dewa yang menyertai mereka.

Yang menarik perhatain adalah bahwa Dewa Kwan Khong Bio ini diiringi oleh gamelan dan rombongan yang dibawa dari Bali. Dengan peristiwa ini sesungguhnya semesta ingin menunjukan kepada kita bagaimana eratnya persatuan diantara penganut Siwa Budha dan betapa indahnya keragaman itu ketika diketahui, bahwa yang sering memberikan sponsor kepada mereka adalah warga dari Tanjung Pinang.

Namun demikian sang mangku yang rendah hati ini sering mengidentikan dirinya dengan pengemis. “Hidup ini cari angin bukan cari 5 persen. Saya dulu pengusaha walau tidak kaya sekali. Sekarang ini banyak orang kaya, tetapi mereka susah karena mikirin harta mereka. Saya ini pengemis tetapi ketika saya melakoni apa yang menjadi kehendak Bliau di atas, dimanapun dan kemanapun saya pergi tidak pernah kekurangan. Tuhan selalu memberikan rejeki kepada saya melalui orang-orang disekitar saya, ” ujarnya dengan logat Bali yang kental.

Di belahan jiwanya yang cenderung magis ternyata Mangku Ayen juga seorang moderat. Mangku yang pernah mengikuti The World Hindu sedunia sebagai salah satu Undangan Kirab Pratima Ganesha “2 nd Ganesha Caturithi Festival 2008”, 6-7 Septembner 2008 tersebut ternyata punya andil besar dalam pengumpulan tujuh Dewi Pelayan Kwan Im yang bekerja di Pura Dalem Ped, Nusa Penida. Dalam bidang pengobatan sesungguhnya mereka digunakan sebagai perpanjangan tangan dari Dewi Kwan Im yang disebut sebagai Siwanita atau Sang Welas Asih. Bahkan lintasan-lintasan aktivitasnya yang terbilang sangat majemuk telah mengantarkan ia sebagai seorang pemuput pada waktu Pesamuan Agung Siswa Hindu ke lima tahun 2008, 3-4 November 2008 di Denpasar.

Soal keterlibatannya di PSMTI, ia mengaku baru saja bergabung. Awalnya ia sempat diajak oleh Pak Budi Argawa selaku ketua PSMTI saat kunjungan di Kintamani, namun ia belum mau bergabung karena tidak ingin terjun ke dunia politik. Akan tetapi ketika mengetahui lebih jelas lagi tentang PSMTI, akhirnya dengan ringan hati ia mendaftar dan mulai merasakan bahwa penujukan dirinya di PSMTI adalah juga bagian dari kehendak Tuhan. Harapan terbesarnya di waktu depan untuk PSMTI adalah bagaimana sekuat tenaga mencari jalan dengan talenta yang ia punya, membantu PSMTI untuk melakukan kegiatan sosial dan tak lupa mendoakan paguyuban ini agar diberikan kesejahteraan dan kedamaian selalu. Amin.

Tulisan Pernah dimuat di Majalah PSMTI Bali.

Comments
1 Comments

1 komentar so far

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon