Selasa, 24 Juli 2012

Jatuh Bangun Berburu Keadilan

Segeryanto
Bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipi Segeryanto (43). Sesekali diusapnya air mata dengan ujung baju kaos di badanya. Lelaki tukang bangunan itu tak kuasa menahan sedih saat ceritakan kisahnya mencari keadilan. Pekerja bantuan hukum Yayasan Manikaya Kauci (YMK) dan LBH Bali, dengan sabar mendengar kisahnya. Suara Yanto serak. Kadang terengah-engah menahan tangis.

Bungamelati (nama samaran), anak gadisnya baru beranjak 12 tahun hilang dari rumah. Meski Melati bukan anak kandung, melainkan anak yang dibawa Rohimin, sang isteri saat menikah, Yanto merasa Melati sudah seperti anak kandung.

Yanto dan Rohimin berusaha tanya tetangga. Keluarga yang tinggal di Jl. Pulau Belitung Gg. Babakan Sari 101, Br. Gladag, Denpasar Selatan itu sangat khawatir. Beberapa saat kemudian datanglah seorang lelaki, mandaor bangunan. “Anak Bapak telah pergi dengan Dodo (nama Samaran) ke Lombok” kata lelaki yang tak lain, ialah bos Dodo (16) bekerja sebagai buruh.

Sontak saja, Yanto dan isteri melaporkan kejadian itu ke Polsek Denpasar Timur. Ia berharap-harap cemas, polisi segera bergerak menjemput anaknya. “Saya dan istri sangat khawatir kalau terjadi apa-apa dengan anak saya, dia itu masih kecil. Belum mengerti apa-apa,” tutur Yanto.

Harapan Yanto pada seragam baju hijau tak bersambut. Perasaan khawatir Yanto dan istri kandas dengan alasan polsek Densel tak memiliki dana operasional untuk jemput Melati di Lombok. Yanto mengaku terus-terang pada polisi, dirinya tak punya uang kalau harus membiayai polisi untuk menjemput anaknya.

Sebagai masyarakat awam, tentu Yanto tak paham kalau pada tahun 2011 institusi tersebut menerima anggaran sebesar Rp 27 triliun dari APBN. Dana itu yah, berasal dari orang-orang seperti Yanto juga. Lewat pajak rokok yang Yanto isap setiap hari. Lewat pajak motor yang disetorkan tiap tahun. Lewat pajak barang-barang yang dibelanjakan. Lewat penghasilan yang disishkan untuk Negara. Dan, lewat macam-macam pungutan yang dilegalkan.

Bermodalkan surat laporan di polsek Densel, Yanto memberanikan diri menjemput anaknya. Pada tanggal 9 Juli ia melapor ke Polsek Gerung, kantor polisi dekat rumah pelaku. Di sana, polisi mengecek keberadaan korban. Ternyata memang benar ada di rumah pelaku.

Senyum Yanto mengembang begitu mendengar kabar keberadaan anaknya dari polisi. Namun senyum itu tak bertahan lama. Polisi Gerung belum bisa menindaklanjuti dengan alasan dokumen belum lengkap. Selain itu polisi tak berani ambil resiko, takut berbenturan dengan adat di sana. Adat yang mengakui kawin lari.

Seminggu lamanya Yanto terkatung-katung di Lombok. Selama itu pula tak mendapat kepastian kabar berita anaknya dari polisi. Sampai akhirnya ia dipertemukan dengan Kepala Dusun tempat tinggal pelaku di Polsek Gerung.

Kadus meminta Yanto agar mengawinkan saja anaknya. Yanto tak bersedia, sebab anaknya masih dibawah umur. Lantas, Kadus menyampaikan akan berunding dulu dengan keluarga Dodo. Hasil pembicaraan akan segera dikabarkan pada Yanto.

Pada waktu yang dijanjikan Kadus tiba, tak jua ada kabar berita. Berkali-kali Yanto menghubungi Kadus melalui telepon genggamnya, tak dijawab pula. Harapan Yanto kandas di Pulau Lombok. Perasaan khawatir, sedih, marah, bimbang hinggap di jiwanya. Terpaksa ia kembali ke Denpasar dengan tangan hampa.

Di Denpasar, Yanto mengabarkan pada polisi di Polsek Densel mengenai apa yang dialaminya di Lombok. Kisah Yanto tak lantas membuat polisi Densel segera bertindak, tanggap dan cekatan melayani rakyat. Yanto dan istri tetap kembali dalam kebimbangan, tanpa kepastian.

”Kembali lagi saya tak mendapat kepastian apa pun. Saya sudah ke sana, ke mari. Saya sudah minta bantuan PPA Polda, saya dianjurkan lagi ke Polsek dengan alasan bukan wewenangnya. Ke humasnya, malah dianjurkan kembali lagi ke PPA. Setiap saya tanya ke Polsek Densel, jawabanya selalu dalam proses. Saya bingung sekali,” ungkap Yanto.

Siang itu gerah. Sinar matahari menyengat kulit. Seharian Yanto modar-mandir. Kesana kemari mencari keadilan demi anaknya. Keadilan yang dicari tak kunjung didapat. Raganya lelah, apalagi jiwanya. Ia menghentikan laju motor di jalan Sudirman, tepat di depan kampus Udayana untuk istirahat.

”Saya pikir, mungkin mahasiswa dapat membantu saya. Saya pun masuk ke areal kampus. Di sana saya bertemu dengan seorang mahasiswa. ’Mas, maaf. Tahu nggakdi mana Lembaga atau LSM yang biasanya berani mengkritisi pemerintah?’ tanya saya. Saya juga menceritakan pada dia mengenai kasus yang menimpa keluarga saya. Oleh mahasiswa itu saya diberikan alamat Yayasan Manikaya Kauci di Jalan Noja,” tutur Yanto.

Perjuangan Yanto belum berakhir. Ia langsung memutar haluan, mencari Yayasan Manikaya Kauci (YMK). Alamat YMK yang diberi mahasiswa hanya menyebutkan di Jalan Noja. Sepanjang jalan Noja ia bertanya. Dari warung ke warung, dan setiap orang di pinggir jalan menjadi sasaran untuk ditanyai.

”Orang-orang yang saya tanyai nggak ada yang tahu. Sekarang saya sadar, ternyata saya juga salah sebut. Saya tanya Yayasan Monikasi. Sampai akhirnya, saya beli rokok di warung depan situ, sekalian nanya. Saya kemudian disuruh coba kesini. Saya baca papan namanya Yayasan Manikaya Kauci. Wah, pantas saya salah sebut, heheheh....,” tutur Yanto menceritakan kekonyolannya sendiri.

(Tulisan dimuat di Majalah Solidaritas, diterbitkan Yayasan Manikaya Kauci Bali)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon