Selasa, 24 Juli 2012

Ida Bagus Mantra - Lawan Korupsi Tak Kenal Lelah

Raut wajahnya teduh. Tatapan matanya penuh persahabatan. Ida Bagus Mantra (62) menyambut kehadiran tim Swaberita di bale bengong sederhana miliknya di Banjar Batu Agung, Jembrana belum lama ini. Di rumah mantan Kepala Kantor Penyuluhan Pajak Jembrana ini tak ada yang mewah. Semua tampak sahaja senada dengan  rumah tua yang berdiri di atas tanah warisan orang tuanya.

Di usianya yang tak lagi muda, IB Mantra mengabdikan hidup untuk urusan sosial kemasyarakatan. Ia kini menjadi Bandesa Pakraman Desa Batu Agung, Jembrana. Warga memilihnya dengan suara bulat, sebab dedikasinya tak diragukan lagi.

Masyarakat sangat menghormatinya. Bukan lantaran ia sebagai Bandesa pakraman saja, tetapi perjuangannya membongkar berbagai kasus dugaan korupsi di Jembrana membuat ia disegani. Ketajaman analisanya sebagai mantan pejabat perpajakan, membuatnya cermat melihat kebocoran penggunaan anggaran daerah.

“Saya dulu bekerja di kantor pajak. Saya merasakan betul bagaimana susahnya mengumpulkan dana. Instansi perpajakan harus kerja ekstra keras agar target terpenuhi. Kadang-kadang kita harus bekerja selama 24 jam. Harapan kita, dana dari pajak ini digunakan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan masyarakat. Tatkala uang itu tidak digunakan sebaik-baiknya, dan diselewengkan, saya kok merasa hasil keringat masyarakat itu disalahgunakan,” tutur IB Mantra.

Di tengah pembicaraan yang semakin alot, IB Mantra meminta waktu sejenak masuk ke dalam rumahnya. Tak lama berselang, ia keluar dengan dua tumpukan dokumen tebal. Rupanya dokumen tersebut salinan laporan ke KPK atas duagaan mark up pembelianmesin proyek Air Megumi dan penyimpangan keuangan lainnya.

“Korupsi itu jauh lebih sadis dibanding teroris. Karena uang rakyat yang dikumpulkan dari sen hingga milliaran itu dimakan oleh segelintir orang. Seharusnya uang itu digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan rakyat. Kalau teroris mungkin hanya segelintir saja yang menjadi korban. Tetapi korpsi korbannya masyarakat banyak,” kata IB Mantra.

Bukan sekarang saja IB Mantra gencar menyuarakan gerakan anti korupsi. Sewaktu menjabat pun ia sudah vokal. Bahkan ayah lima orang anak ini pernah dilaporkan ke induk organisasi kantor pajak. Ia  dituduh mau menjatuhkan pemerintahan yang sah, lantaran sering melakukan pertemuan di rumahnya untuk membahas kasus-kasus dugaan korupsi.

“Saya sempat di periksa beberapa kali di Singaraja. Saya selamat dari pemeriksaan induk organisasi saya. Tim pemeriksa menilai apa yang saya perjuangkan itu terkait dengan kepentingan masyarakat luas,” kata mantan PNS yang sering pindah-pindah tugas ini.

Di akhir pengabdiannya sebagai PNS tahun 2003, IB Mantra mendapat tanda kehormatan dari Presiden Republik Indonesia, Megawati Sukarnoputri atas pengabdian, kesetiaan, kejujuran, kecakapan dan kedisiplinannya dalam melaksanakan tugas selama 30 tahun, sehingga dapat dijadikan teladan bagi PNS lain.

“Kalau orang bilang pegawai pajak itu lahan basah, saya malah kering. buktinya tanah dan rumah yang saya tempati sekarang ini saja berasal dari tanah warisan. Saya tidak punya apa-apa. Kalau yang lain membeli tanah di mana-mana, saya malah menjual warisan,” ungkap suami I Gusti Ayu Suari ini.

Di ujung pembicaraan dengan Solidaritas, IB. Mantra berpesan; dalam kehidupan sehari-hari setiap orang harus membiasakan diri hidup jujur. Jangan berbohong. Ketidakjujuran dan kebiasaan berbohong merupakan pintu awal orang melakukan perbuatan korupsi.

“Segala sesuatu itu, bisa saja kita sembunyikan dari manusia. Tetapi, nanti kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Kalau kita menanam kebaikan, maka nanti kebaikan yang akan kita petik. Kalau kita menanam kebohongan, nanti tau sendiri akibatnya. Mari kita ciptakan lingkungan jujur agar generasi selanjutnya tumbuh menjadi generasi yang bersih darikorupsi,” ungkap IB Mantra.

Tulisan dimuat di Majalah Solidaritas Vol. 6.

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon