Rabu, 25 Juli 2012

Di Sawah Kita Tumbuhkan Harapan

Keuntungan di bidang pertanian itu tak bisa diukur dengan uang. Bisa nggak, orang menghitung nilai ekonomi oksigen yang dihasilkan oleh tanaman. Pernah nggak, orang menghitung nilai kesehatan karena tinggal di lingkungan yang baik. Dan kalau orang lapar kan pasti butuh makan,” ungkap I Gede Rian Pramarta, mahasiswa Fakultas Pertanian Unud di sela-sela kesibukannya melakukan penelitian di kebun percobaan milik fakultas di Jalan Pulau Moyo, Denpasar.

Rian sendiri memutuskan belajar di Fakultas Pertanian karena melihat peluang di sektor pertanian ke depan sangat besar. Hal ini beralasan, sebab kebutuhan akan pangan itu kan pasti selalu ada sepanjang kehidupan manusia berlangsung di muka bumi ini.

“Kebutuhan pangan selalu meningkat dari waktu ke waktu seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Sementara persediaan lahan semakin sempit. Tantangan bagi sarjana pertanian sekarang adalah; bagaimana caranya dengan lahan yang terbatas bisa menghasilakan panen berlimpah,” tutur alumni SMA 1 Tabanan ini pada saya.

Senada dengan Rian, Ketut Wirya yang juga sedang meneliti menyampaikan bahwa di Fakultas Pertanian ia medapat cukup banyak ilmu. Berbekal ilmu yang diperoleh, mahasiswa semerter 7 ini berharap menemukan inovasi-inovasi baru untuk mengengembangkan pola pertania di lahan warisan kakeknya di Klungkung.

“Kalau dulu di sana monoton yang dihasilkan padi, yah padi terus. Sekarang mungkin tidak cukup hanya padi. Misalkan kalau kita panen padi sekarang, enam bulan ke depan lagi baru tanam padi. Persediaan padi yang dipanen enam bulan lalu mungkin tidak cukup sebagai persediaan makanan selama enam bulan. Akhirnya terpaksa harus beli beras lagi. Misalnya bagaimana melakukan pola tumpang sari. Ada jenis tanaman tertentu yang cukup punya nilai ekonomi untuk ditanam.” ungkap Wirya.

“Kalau dulu kotoran sapi dibiarkan berserakan dan dibuang-buang percuma. Sekarang di sini saya belajar mengolah kotoran sapi jadi pupuk kompos. Hasil praktek saya di sini sering saya bawa pulang. Saya juga belajar buat biourine dari kencing sapi untuk mencegah hama tanaman. Ayah saya sangat senang sekali dibawakan produk hasil penelitian saya,” timpal Rian.

Menanggapi alhih funsi lahan yang semaki kencang, Rian menilai sebetulnya secara alamiah, semakin bertambahnya penduduk otomatis semakin besar kebutuhan terhadap lahan pemukiman. Namun, persoalan di Bali sekarang ini alih fungsi tidak sekedar kebutuhan pemukiman penduduk, tapi untuk membangun sarana pariwisata seperti hotel, restoran, villa, tempat hiburan dan macam-macam lagi.

“Kalau untuk tempat tinggal penduduk saja sih, mungkin tak seberapa. Namun, pebagian wilayah pemukiman pun perlu diatur agar tak mencaplok lahan pertanian. Sebaiknya untuk pemukiman lebih baik menggunakan lahan-lahan kritis. Tapi saya heran, loh! Justru saya lihat di daerah persawahan yang subur-subur di wilayah Tabanan itu mulai ada bangunan villa. Kan lama-lama jadi rusak yah?” ungkap Rian.

Rian dan Wirya berharap, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang berpihak terhadap petani. Perentah perlu tegas mmemngatur agar lahan pertanian tidak diseroboti seenaknya oleh mereka yang mengejar keuntungan sesaat semata.

“Petani itu kerjanya sudah berat, janganlah pemerintah itu mempersulit petani dengan kebijakan yang macam-macam. Kebijakan yang tidak berpihak pada petani. Kalau betul-betul mau mensejahterakan petani sebagai orang yang berjasa menyediakan kebutuhan pangan, buat kebijakan yang berpihak pada petani, ungkap Rian.

Sebagai anak muda apakah Rian dan Wirya nggak takut kotor dan nggak dikomplin pacar karena selalu bau tanah? “Yah gimana, yah? Untuk sukses itu kan harus tahu pekerjaan dari bawah. Kalau pacar sih, sudah biasa. Resiko punya cowok kuliah di pertanian. Malah pacar-pacar kita, sering diajak ke sini. Pacarannya malah dekat-dekat kandang sapi biar pacaran jadi sehat, soalnya organik, gitu loh! Heheheh…,” ungkap Wirya menutup obrolan di siang itu.

(Muammar K.) – dimuat di Majalah Solidaritas Vol. 6.

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon