Rabu, 25 Juli 2012

Di Bawah Bayang-bayang Pariwisata

Keharmonisan alam dan manusia Bali
“Untuk menghidupi dua orang anak dan istri, saya terpaksa kerja serabutan. Kadang jadi buruh tani, kadang jadi buruh bangunan, kadang tukang angkat-angkat, dan saya mengerjakan apa saja yang disuruh orang asalkan dapat uang. Hasil kakao hanya sekali setahun, itu pun lebih banyak gagal panen karena penyakit. Nanti, kalau sudah terpaksa sekali saya mau merantau ke Badung. Ada teman ngajakin jadi tukang kebun di hotel,” ungkap I Ketut Tirtayasa (31) pada saya.

Warga Banjar Baler Setra, Desa Medewi, Pekutatan, Jembrana ini mengaku semakin sulit bertahan hidup sebagai petani. Di desanya, warga jarang punya lahan sendiri. Terpaksa warga memanfaatkan daerah pinggir hutan untuk berkebun. 

“Sekarang kami menanam kakao. Tetapi, susah juga karena harga sekarang menurun. Sekarang harga biji kakao kering Rp 20.000,-. Kalau dulu bisa sampai Rp 30.000,-. Selain kakao ada juga pisang. Harga pisang sedikit mahal kalau pas ada hariraya keagamaan,” ungkap Tirtayasa.

Keluhan Tirtayasa terhadap pekerjaannya sebagai petani dan keinginan menjadi tukang kebun di hotel yang lebih menjanjikan menggambrkan tarik-menarik daya pikat sektor pariwisata dengan sektor pertanian. Perebutan sumberdaya kedua sektor ini menjadi cerita tersendiri.

Made Suarnata menjelaskan duduk persoalan kedua sektor ini. Menurutnya, kalau kita berbicara industri pariwisata, dia tidak hanya satu aspek. Tetapi, multiaspek. Yang namanya industri, tentu dia juga membutuhkan sumber daya. Butuh sember daya manusia, butuh orang yang dapat melayani dan memberikan informasi. Juga butuh sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan mereka. 

Selain itu, pariwisata membutuhkan infrastruktur pendukung. Wisatawan ke sini mau tidur, tentu dia butuh akomodasi. Untuk akomodasi, tentu butuh lahan. Wisatwan butuh jalan, dibangun jalan. Sebuah konstalasi yang dulunya biasa-biasa saja dalam konteks kebutuhan lokal. Sekarang  dihadapkan pada persaingan pemakaian sumber daya.

“Karena ciri industri kepariwisataan itu adalah industri yang membutuhkan sumber daya dan juga infrastruktur pendukung, dia menghasilkan sampah. Jadi, pada akhirnya semua komponen menjadi kebutuhan pariwisata. Alam Bali terbatas. Pulaunya kecil, airnya terbatas, sawahnya terbatas. Sekarang dia dibutuhkan untuk yang lain, otomatis menimbulkan konflik. Pada awal-awal mungkin tidak bermasalah. Tetapi pada titik-titik tetentu akan muncul konflik kepentingan,” tutur Suar.

Suar menambahkan, industri pariwisata berelasi dengan kekuasaan. Karena pariwisata itu dianggap dewa yang menghasilkan uang, maka dia bisa menombok orang-orang yang  buat aturan. Dengan demikian, secara struktural mengakomodir perubahan lahan. Dalam praktek misalnya, saluran airnya ke suatu lahan pertanian dimatikan, tanahnya dikapling, pajaknya dinaikan. Kemudian tidak ada air, tidak bisa menanam, tidak bisa bayar pajak, akhirnya lahan dijual.

Agung Alit tegas mengatakan, keuntungan di bidang pariwisata sedikit dirasakan oleh masyarakat Bali. Siapa yang mendapatkan keuntungan dari industri pariwisata Bali? Menurutnya, Rp 150 triliun aset industri pariwisata Bali, berdasarkan data Bali Torism Board, hanya 6% milik penduduk lokal. 

Menurut pria pelopor Bali fair trade ini, Bali hanya dijadikan tempat untuk numpang “buang air” bagi wisatawan. Perilaku wisatawan Jepang misalnya, dia datang menggunakan maskapai penerbangan Jepang. Dijemput oleh tour operator Jepang, pemandu wisatanya orang Jepang, maknya di restoran Jepang, nginapnya di Hotel milik investor Jepang, dan kalau belanja menggunakan kartu kredit yang dibayar melalui Bank di Jepang. Hal ini sangat memprihatinkan.

Secara terpisah, Mega Iswari (25), aktivis YMK menilai, pemilik lahan selalu diiming-imingi. Kalau dapat duit, hidup bisa enak, bisa punya mobil baru, punya isteri baru. Permasalahannya menjadi kompleks. Sekolah-sekolah pun dirubah menjadi sekolah yang mengandalkan keahlian di bidang pariwisata. Tidak peduli apakah nanti akan menjadi pelayan di hotel dan restoran, yang penting bersih tempat kerjanya. 

“Istilah-istilah pun dirubah. Dari tukang kebun menjadi gardenner. Dari tukang sapu menjadi cleaning service. Orang nggak peduli. Padahal kalau jujur, kita itu hanya menjadi buruh. Tukang sapunya dulu yang punya sawah, sekarang jadi tukang sapu di tempat orang lain pula,” ungkap perempuan yang pernah aktif di Walhi Bali ini lantang. . (Muammar K.) – dimuat di Majalah Solidaritas Vol. 6.

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon