Rabu, 04 Juli 2012

Belajarlah Dari Semua Orang

Ilustrasi: Google Image
Tak terbantahkan, manusia memiliki kelebihan dibanding mahluk lain di muka bumi ini. Berkat akal budinya, manusia membangun peradaban dari waktu ke waktu. Perlahan namun pasti, manusia merangkak dari kebiasaan hidup berburu dan meramu, hingga kini memasuki era facebook dan delivery call.

Manusia telah menciptakan berbagai teknologi muktahir untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Dulu manusia perlu waktu berhari-hari bahkan bertahun-tahun untuk menempuh jarak dalam satu pulau. Sekarang, dengan teknologi penerbangan semacam pesawat jet, hanya dalam hitungan menit, manusia dapat berpindah dari satu benua ke benua yang lain.

Sementara itu, mahluk lain seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan tentu saja tidak memiliki akal. Itulah sebabnya mengapa mereka tidak memiliki peradaban. Lihat saja kerbau misalnya, di mana-mana cara makan dan minumnya sama. Perubahan pola hidup binatang dan tumbuh-tumbuhan semata-mata mengikuti pola perubahan alam.

Betapa pun maju dan canggihnya peradaban manusia, namun tetap memiliki keterbatasan. Betapapun pintarnya seorang manusia, namun tetap tidak akan menguasai semua hal. Sudah pasti, setiap orang tidak akan menguasai semua hal. Namun, yang pasti satu orang tentu mengetahui satu hal tertentu. Oleh karena keterbatasan inilah, manusia perlu belajar dari orang lain.

Hal yang sangat nyata dan tak terbantahkan keterbatasan manusia adalah ketidakmampuannya menguasai seluruh ruang dan waktu. Seseorang yang berada di suatu tempat dan pada waktu tertentu hanya mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada saat itu, di tempat itu. Pengetahuan yang dimaksud di sini ialah pengetahuan berdasarkan pengalaman empiris, yakni apa yang dialami dan disaksikan secara langsung dengan mata kepala sendiri.

Pengalaman empirik Obama yang ada di belahan Benua Amerika di sana, tentu berbeda dengan pengalaman Obai yang ada di Indonesia saat ini. Pengalaman hidup orang-orang yang lahir di zaman Koesplus tentu berbeda dengan pengalaman hidup orang-orang yang lahir di zaman Indonesian Idol. Pengalaman hidup Si Benny yang tinggal di Papua, tentu berbeda dengan pengalaman hidup Si Agnes di Jakarta. Dan seterusnya.

Oleh karena itulah, manusia perlu belajar dari pengalaman orang lain untuk saling melengkapi. Setiap orang adalah guru. Karena setiap orang memiliki pengalaman dan keunikan masing-masing. Dengan menyadari segala kekurangan masing-masing, maka tanpa sadar, secara alamiah kita akan menghormati segala perbedaan. Sebab semakin berbeda dan beragam setiap orang, semakin beragam pula guru yang kita temui.

Comments
3 Comments

3 komentar

Persoalannya sekarang ini banyak orang yang mempertahankan ego masing-masing. Jadi, tidak pernah mau belajar kepada orang lain.

Mempertahankan ego masing-masing memang telah menjadi sifat yang melekat setiap orang, Permata. Setiap orang bebas merdeka menjalankan keputusan berdasarkan egonya terhadap hal-hal yang berimplikasi individual. Sekali lagi, untuk hal-hal yang dampaknya hanya untuk dirinya sendiri. Akan tetapi setiap orang mau nggak mau, suka tidak suka harus berkompromi untuk membatasi egonya ketika menyangkut keputusan yang berimplikasi terhadap hajad hidup orang banyak.

Ketika kita memasuki kehidupan dalam lingkungan masyarakat, saat itulah kita menandatangani kontrak sosial bahwa kita tunduk terhadap aturan dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.Kecuali kita hidup sendiri di dalam hutan, yah tentu kita tak perlu memperhatikan kepentingan orang lain.Karena memang di situ tak ada orang. Namun demikian, kita pun tetap harus tunduk padahukum alam.Coba saja, alam dirusak, kita sendiri yang akan menanggung resikonya.

Tapi, ngomong-ngomong, terimakasih telah memberikan atensi atas artikel ini.Salam.

Sebetulnya,sih. Tidak ada satu pun juga manusia di dunia ini yang tidak belajar dari orang lain. Mau profesor kek, mau rohaniawan kek, mau nabi kek, mau presiden kek, mau cowboy kek, mau siapa pun juga pasti pernah belajar dari manusia lain dan alam.

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon