Senin, 30 April 2012

Bondres Dwi Mekar

Aksi Panggung Bondres Dwi Mekar
Di suatu sore, bulan April 2012 lalu, di Desa Banyuning, Singaraja cuaca sedikit mendung. Namun, renyah suara gamelan dimainkan sekelompok anak muda seakan berpacu di udara, merebut ruang halau awan. Tiga puluh orang anak muda itu giat berlatih, selaraskan irama sebagai pengiring drama Bondres Dwi Mekar Sari. Beberapa nada sulit terus diasah, sembari menunggu para pemain Bondres merias diri.

Saya bersama tim Yayasan Manikaya Kauci baru tiba dari Denpasar. Datang khusus menyaksikan pertunjukan bondres sangar Dwi Mekar. Kali ini, Bondres Dwi mekar akan memainkan tema bertajuk kemitraan polisi-masyarakat, sesuai permintaan kami.

Adegan kocak bondres penuh pesan di atas panggung menggugah tawa dan gairah penonton. Bondres merupakan seni pertunjukan drama topeng. Seluruh pemain mengenakan topeng dengan karakter lucu khas masing-masing. Dialog humor menjadi ciri pertunjukan ini.

Sukses pertunjukan Bondres Dwi Mekar tak diraih secara instan. Jalan panjang, terjal dan berliku telah dilwati Bondres Dwi Mekar lebih dari 30 tahun. Adalah Nyoman Durpa, pimpinan sanggar ini berbagi cerita perjalanan kesenian tradisional dipimpinya.

Bondres Dwi Mekar sudah berdiri sejak tahun 1983. Berawal dari ASTI (Akademi Seni Tari) di Denpasar. Sanggar Dwi Mekar pada awalnya sering berpindah-pindah tempat. Bukan lantaran ramai pangilan tampil, tapi pada waktu itu Nyoman Durpa belum punya rumah sendiri sebagai tempat mendirikan sanggar.

Sejak awal berdiri, personil Bondres Dwi Mekar bertambah dan semakin menemukan karakter khas masing-masing pemain.

“Kita berusaha menampilkan sesuatu di masyarakat agar tidak monoton. Kalau kita tampil sendiri tentunya akan kewalahan mencari bahan. Akan tetapi kalau banyak orang, tentu mendapatkan bahan yang beragam. Dengan begitu kita dapat menampikan sesuatu yang tidak membosankan,” tutur Nyoman Durpa.

Lantas, apa yang mendorong Nyoman Durpa menekuni seni pertunjukan bondres? Menurutnya, bondres itu berawal dari seni topeng. Di Bali, seni pertunjukan yang pasti bakal bertahan lama adalah kesenian topeng. Karena seni topeng ada kaitannya dengan penyelenggaraan upacara keagamaan juga acara-acara nonritual keagamaan lainnya.

Nyoman Durpa mencontohkan, misalnya ada acara peresmian bank, LPD, Koperasi, pembukaan gedung baru, perhotelan, dan apa saja bisa masuk. Bondres bisa menyampaikan visi misi mereka lewat dialog khas bondres.

Bondres Dwi Mekar terus melakukan inovasi dari satu adegan ke adegan berikutnya. Dari satu cerita ke cerita berikutnya. Namun tetap mempertahankan karakter yang dibawa oleh masing-masing pemain.

“Untuk karakter pemain tetap. Karena membentuk karakter itu berat. Merubah karakter orang yang keras menjadi halus, sulit. Sebaliknya, mengubah dari halus menjadi keras, tidak gampang. Yang bisa kita rubah paling-paling bentuk ceritranya, temanya dan bentuk-bentuk dialog,” ungkap Nyoman Durpa.

Dalam hal menemukan karakter khas pemain, Bondres Dwi Mekar tidak melaukan audisi khusus. Melainkan ditemukan secara alamiah selama perjalanan Bondres Dwi Mekar.

Nyoman Durpa selaku kapten, mengaku harus jeli memasang pemain. Kalau ada seseorang yang besiknya agama, sastra dan sebagainya ditempatkan sesuai dengan besiknya itu. Kalau ada yang besiknya pelawak, yah ditonjolkan humorisnya.

Lebih lanjut, Nyoman Durpa menjelaskan bahwa hal utama yang harus diperhatikan dalam pertunjukan, yakni panggung, penonton dan pemain. Penonton termasuk salah satu kunci sukses pertunjukan bondres. Oleh karena itu, Nyoman Durpa dan kawan-kawan berusaha mempelajari karakter penonton terlebih dahulu sebelum pentas.

“Tanpa penonton, tentunya pertunjukan itu bertepuk sebelah tangan. Tempat yang baik juga sangat mendukung pertunjukan. Namun masih lebih baik ada penonton. Artinya, tempat yang baik tak akan berarti apa-apa tanpa ada penonton,” ungkap Durpa.

Mendapat tepuk tangan dari penonton sangat berarti bagi Durpa dan kawan-kawan. Sebab itu menimbulkan motivasi dari dalam. Mereka merasa diapresiasi dan tergugah.

“Kadang-kadang satu orang yang menonton, rasanya lebih dari seribu orang . Apabila yang satu orang ini betul-betul sebagai penikmat seni, sebagai pengamat seni, sebagai kritikus seni dan pendukung seni. Mendapat penonton seperti ini, kita akan berusaha sebaik-baiknya. Walaupun satu orang, motivasinya sama dengan seribu orang,” ujar Durpa.

Sebaliknya, kadang-kadang seribu orang penonton rasanya hambar. Semisal, waktu Bondres Dwi Mekar bermain di luar negeri, tepatnya di Qatar belum lama ini. Penontonnya banyak, tetapi mereka tidak memahami apa yang disampaikan. Sama saja seperti tidak ada yang menonton. Tidak ada jalinan kenikmatan atas seni yang ditampilkan.

Di atas panggung Durpa dan kawan-kawan sangat mengandalkan kepekaan perasaan dalam membaca situasi. Karena di atas panggung tak ada lagi sutradara. Semua dimainkan berdasarkan kominukasi nonverbal dan kontrol masing-masing. Mereka telah terbiasa menggunakan bahasa nonverbal. Jadi, keinginan kawan main sudah terbaca antara satu sama lain.

Nyoman Durpa mengistilahkan komunikasi semcam ini berasal dari pengaruh masa di dalam diri sendiri dan pengaruh masa yang berasal dari luar. Hal semacam ini hanya ada dalam seni pertunjukan.

Menurut nahkoda Bondres Dwi Mekar ini, berhadapan dengan penonton yang berbeda segmen, semisal pejabat, pengusaha, politisi dan masyarakat biasa, tentu terdapat perbedaan. Misalnya yang menonton gubernur. Maka, semua penonton atau peserta di situ, pandangannya pasti tertuju pada gubernur.

“Kalau kita bisa mainkan gubernurnya, maka peserta pasti akan tertawa. Misalnya kita menyebutkan nama gubernurnya secara lugas. Maka, penonton akan larut dalam suasana santai. Yang penting kita tetap memperhatikan etika dan estetika. Tanpa harus membuat yang bersangkutan tersinggung. Kita tidak boleh sembarangan, asal ngomong,” kata Durpa menjelaskan.

Nyoman Durpa sadar, seni pertunjukan yang dirintisnya sejak tahun 1983 itu mesti ada generasi baru yang menggantikan. Ia sendiri menargetkan lima tahun lagi akan “turun pagung”. Namun sebelum tiba saatnya, ia kini tengah mempersiapkan generasi lapis kedua sebagai penerus.

Persiapan generasi lapis kedua ini dilakukan melalui latihan yang cukup intens. Para pemain muda selalu diberi kesempatan tampil pada waktu pentas di hadapan penonton. Mereka dilatih agar menguasai berbagai tehnik dasar bondres.

Bondres tergolong seni pertunjukan yang paling komplit. Pemain harus mampu berbicara, dituntut mampu bernyanyi, harus mampu menari, harus mampu memainkan gamelan, kemudian harus mampu menguasai penonton dalam berbagai situasi.

Perkembangan teknologi dewasa ini memberi kemudahan setiap orang mengakses berbagai jenis hiburan. Tentu hal semacam ini menjadi tantangan bagi kesenian tradisional semacam bondres.

Di satu sisi, Durpa mengakui kesenian tradisional semacam bondres menghadapi ancaman serius. Namun, di sisi lain Durpa optimis. Sebab berkat kemajuan teknologi informasi pula yang akan mempermudah setiap orang menelusuri kesenian tradisional original seperti bondres.

Bondres Dwi Mekar: Nyoman Durpa berperan sebagai Ngurah Toni. I Made Ngurah Sudika sebagai Susi. Komang Ngurah Suastika sebagai Tulalit. IB. Indra sebagai Romi. Dan Ketut Suardana sebagai Pemuda.

(Muammar K.) – dimuat di Majalah Solidaritas Vol. 6.

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon