Rabu, 01 Februari 2012

Modal Senyum Bu Weti

Bila Anda berencana membuat usaha baru, tentu perlu modal sebagai investasi awal. Besarnya modal yang dibutuhkan umumnya dikalkulasi dengan nilai uang. Tapi, ada modal yang tak dapat diukur dengan angka. Bahkan modal yang satu ini tak akan pernah habis, walau dipakai terus-menerus. Nggak percaya? Yuk, kita tengok usaha warung nasi ayam kampung Bu Made Weti. Usaha ini telah bertahan hingga tiga puluhan tahun.

Matahari perlahan menampakkan diri dari ufuk timur Pantai Sanur. Awan tampak merah kekuning-kuningan. Sepanjang garis pantai ada aktivitas baru dimulai. Para penjaga art shop menata ulang barang dagangan untuk menarik perhatian pembeli. Tukang jukung (perahu cadik) memeriksa kondisi jukung agar siap mengarungi laut. Karyawan hotel dan restoran tampak buru-buru. Tukang parkir mengatur kendaraan yang datang satu per satu. Di ujung jalan Segara Ayu, Sanur, Bu Weti tak mau ketinggalan, berpacu dengan waktu, megais rejeki di pagi hari.

Saya duduk di seberang jalan, diam-diam memperhatikan aktivitas Warung Bu Weti. Dibanding restoran sekitar, Warung Bu Weti tak ada apa-apanya. Tapi, coba lihat! Pagi ini para pengemar nasi ayam kampung Bu Weti mulai bermunculan. Mereka adalah karyawan hotel dan restoran setempat, sopir taksi dan pengunjung umum. Tak lama kemudian, beruntun datang rombongan anak SMU mengenakan pakaian olahraga, pasangan suami istri, kelompok keluarga, hingga rombongan wisatawan domestik. Bu Weti mulai sibuk melayani para pembeli. Gerak tangannya lincah menyajikan menu istimewa untuk para pengunjung yang mulai berdesakan tunggu jatah kursi kosong.

Setengah jam kemudian pengunjung mulai lenggang, saya mendekat, lalu mengisi salah satu kursi kosong. Tak perlu ngomong, Bu Weti tentu tahu, setiap orang yang duduk disitu untuk memesan makanan. Sekejap kemudaian, sepiring nasi ayam racikan tangan Bu Weti dihidangkan di depan mata. Dalam waktu sekejap pula, piring yang tadinya terisi penuh kini tampak kosong kembali. Hmmmm… makyus! Daging suwir, kulit goreng garing, sambal goreng, sambal matah (baca: mentah) dan sayur kacang panjang tumis benar-benar menjadi cita rasa sempurna. Sampai-sampai saya lupa tugas pokok mewawancarai Bu Weti.

Modalnya, Kepribadian yang Baik dan Hangat

“Saya tidak bisa jawab kalau ditanya soal yang serius-serius, Mas,” kata Bu Weti ketika diminta kesediaannya menjawab pertanyaan seputar usahanya. Rupanya Bu Weti terganggu deangan kata-kata wawancara. Pelan-pelan saya mengatur strategi agar tetap bisa mengorek informasi dari Bu Weti. “Lupakan wawancara! Lupakan liputan! Ngobrol santai saja,” ucap saya dalam hati. Akhirnya, Bu Weti larut juga dalam obrolan penuh akrab dengan saya. Bu Weti sebetulnya orang yang hangat dan terbuka.

Ibu Weti telah memulai usanya sejak dulu; kapan persis tahunnya, Bu Weti tidak ingat. Beruntung ada Nyoman Lembut yang kebetulan memesan makanan coba mengingat. “Sejak tahun 1977 saya menjadi tukang jukung di sini sudah menjadi pelanggan Bu Weti. Kalau tidak salah waktu itu Bu Weti baru buka,” ucap Lembut.

Menurut Bu Weti, sejak awal buka sampai sekarang, tempat usahanya tidak pernah pindah. Dulu pernah ada orang yang menawarkan tempat yang lebih bagus. Namun, Bu Weti menolak dengan alasan sudah betah di tempat ini. Tempat yang Bu Weti kontrak sekarang menjadi bagian depan Pasar Seni yang dikelola oleh Yayasan Pembangunan Sanur.

Makan di warung Bu Weti serasa makan di rumah sendiri, sebab Bu Weti memperlakukan seluruh pelanggan seperti keluarga sendiri. Selalu tersedia ruang untuk membicarakan berbagai hal dengan pelanggan. Persoalan naik turunya harga barang, situasi ekonomi lokal sampai pada persoalan-persoalan keluarga. Bu Weti mengenali ratusan pelanggan yang datang setiap hari. Kebanyakan pelanggan yang datang sudah lebih dari sekali. “Dulu saya punya pelaggan setia, seorang sopir di Hotel, kalau dia tidak meninggal, pasti dia berada di sini sekarang,” kata Bu Weti menerangkan.

Kepribadian Bu Weti yang baik dan nyaman bagi setiap orang yang datang adalah modal utama sebagai kekuatan usahanya. Para pelanggan yang datang punya kerinduan untuk bertemu Bu Weti, lebih dari sekedar menikmati makanan biasa. Satu lagi yang unik yang sudah menjadi daya tarik tersendiri adalah cara penyajian makanan di atas piring oleh Bu Weti. Semuanya dilakukan dengan tangan. Hal inilah yang dirindukan oleh penikmat Nasi ‘buah tangan’ Bu Weti. Apabila disajikan oleh orang lain, seakan-akan rasanya ada yang kurang. Makanya, bila Bu Weti berhalangan warung pasti tutup.

Bu Weti dibantu oleh Nyoman Medari, Nengah Sumeti dan Erna. Tiga orang tersebut menjadi karyawan tetap. Orang-orang sekitar juga turut membantu. Nyoman Kari, sehari-hari bekerja sebagai tukang parkir, juga kerap membantu Bu Weti disela-sela kesibukannya. Ia langsung ke belakang untuk cuci piring, ambil air atau sekedar bersih-bersih. Ia mendapat makan gratis sebagai imbalan.

Bu Weti melakukan aktivitas dari jam empat subuh. Kegiatan memasak biasa selesai jam setengah tujuh. Selanjutnya seluruh bahan makanan yang telah dimasak dibawa ke warung. Bli Mandara, sopir Bu Weti, selalu siaga mobil tua. Mobil dibeli Bu Weti beberapa tahun sejak buka usaha. Bagi Bu Weti, mobil tua itu menjadi saksi sejarah perjalanan usahanya. Makanya, walau ada yang pernah nawar dengan harga tinggi, untuk ukuran usia mobil tersebut, Bu Weti tetap mempertahankan.

Setiap hari Bu Weti mengabiskan empat sampai enam bakul nasi. Satu bakul rata-rata menghasilkan tujuh puluh porsi. Satu porsi dijual dengan harga Rp 15.000,-. Bila dirata-ratakan lima bakul setiap hari, maka untuk menghitung penjualan Bu Weti per hari sangat gampang. Lima bakul kali tujuh puluh porsi, kali Rp 15.000,-. Sehari Bu Weti rata-rata menjual sampai Rp. 5.250.000,-. Bila sebulan Bu Weti membuka dua puluh delapan hari, maka rata-rata per bulan menghasilkan Rp 147.000.000,-. Biaya produksi berkisar 50% untuk bahan baku, sewa tempat dan gaji karyawan. Maka, sudah dapat dipastikan Bu Weti mengantongi keuntungan sebesar Rp 73.500.000,- setiap bulan. Omzet yang baik bukan?


(Tulisan dimuat di Majalah Bisnis M&I)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon