Selasa, 01 Maret 2011

A. A. Bagus Adhiwirya

A.A. Bagus Adhiwirya
Berani Jadi Pengusaha, Berani Gagal!

Adhi, panggilan akrab A.A. Bagus Adhiwirya. Usianya tergolong muda, namun kemampunnya di dunia bisnis telah melampaui batas waktu. Bisnis di bidang hospitality adalah bakat yang melekat dalam dirinya. Hal tersebut setidaknya dirasakan oleh saya saat menemuinya di Hotel Bali Niksoma, salah satu bisnis keluarga yang dikelola oleh pemuda ramah ini.

Sambutan penuh senyum satpam di pintu masuk hingga ke front office membuat perasaan nyaman. Ia sangat dihormati dan disayangi oleh para stafnya. Ia menganggap seluruh stafnya bak keluarga sendiri.

Seorang wanita tengah baya bernama Mini mengatrakan minuman di sela-sela interview. Dari gestur ia tak tampak seperti waitress pada umumnya, ia terlihat seperti bagian dari keluarga Adhi. Tak lama beselang Mini menceritakan kebaikan keluarga Adhi kepada saya. Mini mengaku, keluarga dan anak-anaknya dapat mengeyam pendidikan tinggi berkat kebaikan Adhi dan keluarga. Air mata berlinang membasahi wajah Mini adalah ungkapan jujur untuk melukiskan pribadi seperti apakah yang melekat dalam diri Adhi. Penasaran? Yuk, kita ngobrol-ngobrol dengan Adhi.

Kaddafi: Tolong ceritakan bagaimana perjalanan bisnis Anda hingga sekarang ini? Apakah sejak kecil memang sudah punya cita-cita menjadi seorang bisnisman?

Adhi: Dari kecil saya selalu ikut orang tua. Kebetulan orang tua bekerja di salah satu perusahan minyak di Indonesia. Jadi, dari kecil saya selalu ikut kemana-mana; di Balikpapan, Cilacap, pindah ke Jepang dan kemana-mana. Akhirnya saya masuk SMA di Amerika. Kemudian saya kuliah mengambil Tehnik Mesin. Awalnya saya ingin mengikuti jejak orang tua. Orang tua bilang di Indonesia prospeknya kurang bagus, akhirnya saya pindah ke bisnis. Saya mengambil manajemen. Setelah balik, saya mencoba untuk bisnis. Memang semua bisnis itu tidak selamanya berjalan lancar, yah. Tahun 2005, awal-awal saya lulus kuliah sempat ikut bisnis Tongkang dan transport Batu Bara. Karena memang kerjaannya terlalu banyak sekali mafianya, jadi saya bertahan hanya setahun di situ. Akhirnya saya kembali ke sini, untuk ngurusin Bali Niksoma sebagai bisnis keluarga. Selain mengurus di bidang financial, di sini saya mengurus bagian kesejahteraan staf. Bisnis apapun, aset yang paling utama adalah staf. Kalau kita tidak punya staf yang bagus, sebagus apapun tempat bisnis kita, tidak akan bisa berjalan baik. Sebaliknya kalau kita bisa bikin staf bahagia, mereka akan bekerja dengan penuh semangat.

Kaddafi: Apakah ada kebijakan khusus sebagai bentuk perhatian pada staf?

Adhi: Saya sih, mengangap staf saya itu sama seperti anggota keluarga saya sendiri. Kalau kebijakan formal sih, tidak ada yang spesifik. Prinsip saya adalah apa yang mereka patut dapetin, mereka akan dapetin. Saat makan siang bareng, saya memperlakukan mereka sama seperti saudara atau teman-teman saya. Sore, setelah jam kerja usai, mereka saya ajak olah raga bareng. Ini semua saya lakukan agar rasa segan mereka itu hilang. Lebih dari itu, mereka bahkan sangat menjaga saya dan keluarga. Para staf memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Rasa tanggug jawab itulah yang akan mengntrol diri mereka, tanpa saya harus selalu ada disini. Mereka bekerja dengan hati nurani. Banyak tamu yang datang kesini berulang kali, tidak mau mencari penginapan lain, alasannya mereka sudah merasa nyaman dengan tempat ini. Merasa bersahabat dengan staf yang ada di sini.

Kaddafi: Apa yang meyakinkan Pak Adhi, di awal merintis usaha, bahwa tempat ini memiliki prospek yang cukup baik?

Adhi: Bali Niksoma sebetulnya sudah dirintis sejak tahun 1987. Baru direnovasi ulang sekitar tahun 2003. Waktu itu saya masih menempuh studi di Amerika. Setelah ayah saya pensiun, beliau balik ke Bali tak lama setelah peristiwa Bom Bali 2002. Nah, kalau pertanyaannya apa yang meyakinkan bahwa usaha ini bakal maju? Saya merasa sebagai orang Bali harus bisa maintenance sebuah hotel. Keyakinan itu timbul karena kita merasa memiliki kapabilitas untuk melaksanakan hal tersebut. Dalam bisnis hospitaliy, orang Bali sudah cukup mumpuni di bidang yang satu ini. Orang Bali juga sudah terkenal dimana-mana bisa melakukan sesuatu yang terbit dari dalam hati mereka sendiri. Saya bersama ayah dan kakak saya akhirnya bisa menonjolkan sesuatu yang lebih. Kalau hospitality sebetulnya tidak susah, yang terpenting adalah service yang baik dan memuaskan.

Kaddafi: Kalau dilihat dari percepatan pendapatan yang awalnya dalam hitungan bulan, sekarang ini hitungan hari, apakah itu semua ada sistemnya, atau kebetulan-kebetulan saja?

Adhi: Memang semua itu pasti ada sestemnya. Setiap tahunnya kita pasti punya target, prediksi tahun depan seperti apa. Misalnya tahun lalu rich accupation 70 %, tahun ini kita targetkan 80%, tahun depan 85 %. Nah, untuk mencapai angka itu apa yang harus ditingkatkan? Fasilitas kamar kita tambahkan, marketing kita tingkatkan, market kita perluas. Yang jelas ada sistemnya?

Kaddafi: Apakah sistem tersebut bisa diajarkan kepada orang lain?

Adhi: Bisa. Hospitality is not very difficult. Dari awal saya diajarkan oleh kakak saya bagaimana menghitung room costing, bagaimana harus menagani staf, bagaimana kita meningkatkan service, bagaimana kita menghadapi komplin tamu dan sebagainya.

Kaddafi: Apa saran Anda kepada pembaca atau orang-orang seperti saya agar bisa mencapai sukses seperti Anda?

Adhi: Yang utama adalah kejujuran. Jadi kalau merasa tidak bisa, yah minta tolong kepada yang bisa, jangan ada rasa malu. Kalau kita tidak pernah mencoba kita tidak akan tahu sejauh mana kemampuan kita. Kalau merasa kurang, kita minta minta diajariin. Sebagai atasan, pun tidak boleh sombong kepada yang di bawah.

Kaddafi: Dalam perjalanan bisnis Anda sendiri, apakah ada pelajaran penting yang pernah dipelajari?

Adhi: Dua kali saya pernah mencoba dan belum berhasil; yang Tongkang dan Restoran Jepang. Saya rasa menjadi pelajaran penting yang pernah saya pelajari. Dua kali saya melakukan kesalahan. Yang pertama barangkali itu bukan merupakan bidang saya. Yang kedua, franchising juga bukan menjadi bidang saya. Saya sebetulnya lebih pas di bisnis dengan family oriented. Yah, sebetulnya pelajarannya kita harus berani rugi dulu baru akan mendapatkan untung. Apa lagi kalau kita baru memulai usaha. Kita akan bekerja keras menghabiskan pikiran, tenaga dan biaya untuk melakukan promosi dan pemasaran.

Kaddafi: Masuk ke sisi spiritual; bagaimana Anda mengintegrasikan sisi spiritualitas dengan dunia bisnis?

Adhi: Sisi spiritualitas bagi saya adalah yang utama. Misalnya saya tiba-tiba harus meeting, sementara ada kewajiban kebutuhan spiritual yang mesti saya penuhi, tentu saya akan mendahulukan kebutuhan spiritualitas ketimbang kepentingan meeting. Toh meeting masih bisa ditunda, sementara kebutuhan spiritualitas tidak mungkin ditunda. Sebagai umat Hindu Bali, di awal memasuki gedung baru misalnya harus melaspas dan memenuhi syarat-sayarat sesuai dengan kepercayaan saya sebagai umat Hindu Bali.

Kaddafi: Warisan apa yang ingin Anda tinggalkan?

Adhi: Wah, kalau ditanya tentang itu saya belum kepikiran. Ha ha ha… Yah, saya pikir nama baik lah yah. Menjadi orang yang dihormati oleh orang lain. Mulai dari lingkungan keluarga, krama banjar dan seterusnya. Kita hidup dalam lingkungan sosial, maka menjadi penting menjaga hubungan baik dengan sesama. Saya berusaha semaksimal mungkin membina hubungan tersebut, misalnya dengan memenuhi undangan krama banjar, mengikuti kegiatan-kegiatan sosial. Dua sisi kehidupan, sebagai mahluk individu sekaligus mahluk sosial adalah kodrat kehidupan setiap orang yang harus dipenuhi.

Kaddafi: Apakah ada kebibasaan-kebiasaan untuk sukses?

Adhi: Pasan klasik yang sering kita dengarkan, “jangan sampai melewati matahari terbit, sebab rejeki kita bisa dipatok ayam”. Pesan ini lah yang saya terapkan sebagai kebiasaan dalam hidup saya. Saya membiasakan diri untuk bangun pagi, walaupun malamnya mungkin saya pulang larut.

Kaddafi: Selain bisnis di bidang hospitality yang dijalankan saat ini, apakah ada peluang yang Anda lihat, namun belum sempat dijalankan?

Adhi: Bisnis property. Saya pikir di Bali masih sangat menjanjikan untuk bidang bisnis yang satu ini. Selain itu, keberadaan saya di Bali membuat saya bisa bagi perhatian untuk menjalankan bisnis saya yang lain. Sebuah bisnis yang dijalankan harus diberikan perhatian sepenuhnya, ini prinsip saya.

Kaddafi: Apa tesis Anda, sehingga yakin betul dengan prospek bisnis property di Bali?

Adhi: Banyak bangat teman-teman saya yang nelpon, “tolong cariin tanah dong…” Nah, itu tesis pertama yang meyakinkan saya. Tanah itu nggak mungkin bertambah, sedangkan jumlah penduduk semakin bertambah. Ini adalah tesis yang kedua.

(Hasil Wawancara dimuat di Majalah Bisnis M&I Vol. 12 Des 2010 – Jan 2011. Foto: dedet)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon