Rabu, 02 Februari 2011

Pasar Tradisional, Ruang Dialog Muara dan Hulu

Aktivitas di Pasar Badung
Seorang Pejabat Bank Indonesia dalam sebuah seminar di Denpasar tahun ini mengatakan, “Dua hari saja pelabuhan Gilimanuk terganggu, Bali akan rawan kebutuhan bahan pokok.” Dan, dimanakah tersedia sebagian besar kebutuhan bahan pokok untuk sekitar 3,9 juta jiwa penduduk Pulau Bali? Pasar tradisonal! Tapi, di Denpasar, kota terbesar di Pulau Bali, pasar tradisional seperti sedang kehabisan nafas dan jadi bahan keributan.

PD Pasar Badung, sebagai pengelola sembilan pasar tradisional di Kota Denpasar, sekarang tengah terengah-engah. Menurut para pengelola, serbuan pasar-pasar modern dalam segala bentuknya: Dari yang sekelas Carefour, Ramayana, Robinson, hingga Hero, dari Circle K, Minimart, Alfamart, Indomart hingga yang lokal Hardys, seperti serangan pasukan kolonial yang datang, bercokol, dan mencabik-cabik sistem pasar yang dibangun PD Pasar Badung. Dan, membuat perusahaan daerah ini sekarat.

Alasan tentang tekanan pasar tak cukup kuat untuk anggota Parlemen Kota Denpasar. Mereka lebih setuju, ini masalah ketidakmampuan manajemen PD Pasar Badung dalam berinovasi. Manajemen alias pengelola pasar, oleh anggota DPRD Kota Denpasar, dipandang tidak kreatif dalam mengelola persaingan pasar. Bayangkan, kata mereka, keuntungan yang didapat selama tahun 2009 hanyalah 400 juta saja. Tapi, mengeluarkan biaya untuk pegawai 5,9 milyar (4,5 milyar untuk gaji karyawan) dan biaya operasional 2,3 milyar. Total: 8,2 milyar. Padahal pendapatan hanyalah 8,6 milyar (Bali Post, 22 November 2010)

Observasi jurnalis M&I Kaddafi di lapangan seolah menjawab preposisi di atas. Pasar-pasar tradisional yang ada di Kota Denpasar memang sedang mengalami kelesuan tahun-tahun belakangan ini. Pasar Badung, Pasar Kreneng, Pasar Satrya, Pasar Hewan Beringkit, Pasar Sanglah, Pasar Renon, mengalami penurunan jumlah pengunjung dan ragam barang yang diperjualbelikan. Penyebabnya bisa beragam, dari kalah bersaing dengan pasar modern, pergeseran pola konsumsi masyarakat, pengaruh media massa yang masif, aksesibilitas yang tidak memadai (jalan sempit dan rusak, becek, dll), tata ruang, dukungan masyarakat, hingga kapasitas pengelola yang terbatas.

Pun begitu, observasi itu tidak dapat menjadi dasar untuk menerima penjelasan “kalah bersaing”. Jika melihat situasi di tingkat makro, Pulau Bali, pendapat pasar tradisional “pasti” kalah bersaing dengan pasar modern sangatlah keliru. Para ekonom dan sejarawan justru melihat sekarang ini “bunga perekonomian” Kota Denpasar sedang mekar-mekarnya. “..tampaknya Denpasar mengalami perkembangan yang menonjol terutama dalam aktifitas ekonomi. Perkembangan di sektor perdagangan misalnya menyebabkan berkembangnya kota-kota baru sebagai pusat pemerintahan dan pertumbuhan ekonomi. Adanya mobilitas geografis telah mengarah dengan semakin intensnya gerakan mobilitas penduduk seperti urbanisasi.” Tulis I Ketut Ardhana dalam buku Sejarah Kota-Kota di Indonesia.

Perkembangan ekonomi sekarang ini memberikan ruang yang sama luasnya, baik untuk pasar modern maupun pasar tradisional. Urbanisasi yang pesat masyarakat desa ke ibukota tetap tidak dapat meninggalkan kebiasaan, kultur dan religi. Yang juga berarti, membutuhkan keberadaan pasar-pasar tradisional. Baik karena alasan religius, faktor kebiasaan, maupun karena keterbatasan finansial alias mendapatkan harga barang yang murah.

Di situs Hindu Parisadha Dharma (www.parisada.org) ada tulisan berjudul Pasar dan Denpasar…Festival dan Jual Beli… (pernah dimuat di rubrik Apresiasi, Bali Post, 7 Februari 2010). Kutipan tulisan itu mengatakan begini:

“Pasar adalah muara dan sekaligus hulu. Sebagai muara pasar adalah kaki. Sebagai hulu pasar adalah kepala. Pertemuan kepala dengan kaki, atau kaki dengan kepala, tidaklah lumrah. Tapi ini terjadi di pasar. Oleh karena itu pasar adalah satu tempat yang sangat berpotensi penciptaan. Alasannya, karena dalam pasar ada konflik. Dasar sebuah penciptaan adalah konflik. Tentu saja konflik itu diolah sedemikian rupa. Kemudian diberi bentuk sedemikian rupa pula”.

Dalam kaitannya dengan keberadaan pasar di kota Denpasar juga termaktub di tulisan itu. Pasar tidak berbeda dengan ibukota. Ibukota adalah muara dan sekaligus hulu. Orang dan barang mengalir ke ibukota. Selanjutnya dari ibukota orang dan barang itu mengalir kembali ke pelosok-pelosok. Oleh karena itu, ibukota pun memiliki potensi penciptaan. Karena di ibukota tentu ada konflik. Sisi positif dari konflik adalah adanya potensi penciptaan.

Seperti ibu kota, pasar bisa dimasuki dari mana saja. Banyak hal baru akan kita lihat kalau masuk pasar dari agama, misalnya. Karena keduanya dari dulu ternyata sangat berhubungan satu sama lainnya. Macam apa hubungan pasar dengan agama?

“Agama memang dikatakan memisahkan orang berdasarkan keyakinan dan tata upacaranya. Pasar mempertemukan perbedaan keyakinan itu dalam hiruk-pikuk hingar-bingar festival jual-beli. Festival yang satu ini berlangsung sambung menyambung tak henti-henti selama 24 jam sehari. Festival jual-beli ini terbukti mengalahkan semua jenis festival yang pernah dibuat orang. Misalnya, festival Ogoh-Ogoh, festival Pesta Kesenian Bali, festival Rangda dan Celuluk, dan festival Kerauhan lainnya. Berbagai festival itu kalah oleh sihir pasar, karena festival-festival itu ternyata adalah anak-anak dari Ibu Festival Jual Beli”

Pasar juga dapat ditinjau dari aspek sosiologis. Tidak sekadar menjadi tempat pertemuan penjual dan pembeli, melainkan sebuah ruang interaksi sosio-kultural antar masyarakat masyarakat Denpasar, bahkan Bali, dengan manusia-manusia dari seluruh penjuru nusantara.

Sebagai contoh, Pasar Badung, tempat ini menjadi ruang interaksi para perwakilan dari berbagai komunitas di Bali dan pulau-pulau sekitarnya. Mereka tidak sekadar berdagang. Sembari menjual barang dagangan yang berasal dari Klungkung, Gianyar, Karangasem, Lombok, Banyuwangi, Yogyakarta, bahkan dari mana-mana di seantero Nusantara dan bertemu dengan para pembeli dari Denpasar, Kuta, Nusa Dua, Sanur, Singaraja, Klungkung, bahkan wisatawan yang berasal dari Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, serta datang dari belahan benua Australia atau Eropa. Mereka tidak sekadar belanja, tapi saling berbagi cerita. Tentang, kehidupan di tempat masing-masing.

Tolhas Siregar, alumnus Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta, ketika berhari-hari dan bermalam-malam observasi di Pasar Badung, mengatakan, “Sistem politik media gagal mengintervensi kenyataaan sosial. Rakyat punya kenyataan dan sistem komunikasi sendiri.”

Contoh paling nyata adalah saat Presiden AS Barack Obama datang ke Indonesia, dan Tolhas sedang berada di Pasar Badung. Tidak ada seorang pun di Pasar Badung yang membicarakan kedatangan Obama. Mereka lebih asik bercerita tentang harga barang, penurunan atau kenaikan produksi, persiapan hari raya, hingga gosip tentang orang yang sama –sama mereka kenal selama bertahun-tahun. “Pasar Badung adalah tempat interaksi sosial milik rakyat yang sangat hidup, religius, dan penuh keakraban,”ujarnya menyimpulkan.

Membicarakan nilai-nilai filosofis jelas tidak cukup untuk menyelamatkan pasar-pasar tradisional di Denpasar. Tidak cukup kuat untuk menghalangi kebocoran konsumen yang “ditangkap” pasar-pasar modern. Harus ada upaya-upaya kreatif dan inovatif agar mampu bersaing. Anggota DPRD melihat sebab utamanya ada pada persoalan kapasitas pengelola. Tapi, itu tidak satu-satunya. Pihak eksekutif dan legislatif juga perlu mendorong lahirnya kebijakan yang pro pasar tradisonal. Misalnya berisikan tentang penyediaan lahan parkir yang memadai, tata ruang pasar,atau akses jalan yang lancar.

Selain itu, juga, melibatkan partisipasi masyarakat untuk ikut merawat dan menyelamatkan pasar tradisional di kota Denpasar ini, Caranya bisa macam-macam, dari sekadar lebih sering datang ke pasar-pasar tersebut, membangun organisasi pencinta pasar tradisional hingga penyelenggaaan even-even pariwisata, misalnya di kawasan heritage Jl. Gajah Mada dan sekitarnya. Misalnya, festival malam minggu atau festival tahunan. Atau, ide-ide lainnya yang lebih inovatif.

Yang jelas, menaikkan pendapatan PD Pasar Badung, itu memang hal penting. Tapi, menyelamatkan momen interaksi sosio-kulutral pasar tradisional di Kota Denpasar juga tidak kalah penting. Itu seperti menyelamatkan ruang dialog kebudayaan di ibukota pulau dan Provinsi Bali. Ruang itu, barangkali, menjadi satu-satunya ruang dialog peradaban muara dan hulu yang tersisa. Tempat di mana proses penciptaan sedang berlangsung.

Editor : Dicky Lopulalan

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon