Rabu, 12 Januari 2011

Albertus Adhitya, Semangat Dagang Sejak Kecil

Albertus Aditya
Adhit bisa dibilang sukses mengelola bisnis. Akhir tahun 2006, diutus perusahan jasa outsourcing tenaga security tempat ia bekerja di Semarang. Awalnya, Adhit merintis dari nol, tak terasa dalam waktu setahun ia mampu mengembangkan perusahaan tersebut hingga memiliki karyawan puluhan jumlahnya. Awal tahun lalu ia mengembangkan perusahaan franchise Auto Bridal, sebuah bisnis jasa layanan cuci mobil dengan fasilitas paling wahid.

Dalam menjalankaan bisnis, Adhit memegang prinsip-prinsip kepemimpinan yang berpedoman pada filosofi Jawa; Tetek, Tego dan Tegel. “Tetek artinya, dalam memimpin, kita tak boleh mengedepankan rasa iba yang berlebihan. Tego, penerapannya, dalam setiap kebijakan yang kita ambil sudah tentu ada pihak yang merasa diuntungkan dan ada pihak yang merasa dirugikan. Kalau kita merasa keputusan tersebut memang yang terbaik, maka kita harus mengesampingkan rasa enak nggak enak itu.

Bila kita khawatir ada pihak yang dirugikan, maka perubahan tidak akan ada. Tegel itu tegas. Pengertian lainnya adalah konsisten. Kita tidak boleh plin-plan membuat keputusan,” ungkap pria kelahiran 29 Mei 1983 ini dengan lantang.

Sejak TK sampai SD kelas dua, Adhit tinggal bersama neneknya di Jembrana. Sepulang sekolah Adhit menjual kue keliling kampung. Hasilnya, lumayan buat nambah uang jajan. Menginjak SD kelas tiga, ia tinggal bersama orangtua di Denpasar. Kala itu, di sekolah sedang ngetrend permainan dengklek. Permainan dengklek menggunakan “gaco” semacam benda bulat pipih, biasanya dari pecahan genteng. Suatu hari Adhit main ke tempat salah satu keluarga. Adhit tak sengaja menemukan pecahan keramik bekas bangunan. Ia membetuk keramik tersebut hingga bulat.

Di sekolah gaco milik Adhit terlihat mewah dan mencolok. Teman-temannya pun tertarik pada gaco keramik buatan Adhi. Otak dagang Adhit langsung main, tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Adhit menawarkan pada teman-temanya, bagi yang berminat boleh mendapatkan dengan harga Rp 300 per gaco. Lagi-lagi ia mendapatkan tambahan uang jajan. “Orang tua saya selalu bilang, kalau belum bisa cari uang, jangan makan yang banyak. Kalau belum bisa cari uang, jangan bergaya. Waktu SD itu, keinginan saya adalah makanan, otomatis saya harus memutar otak,” tutur Adhit.

Adhit menceritakan lagi kisah lain. Dulu waktu kecil, penjual arum manis sepeda kayuh sering melintas di depan rumahnya. Di bagian belakang sepeda biasanya digantung permen yang berisi undian. Hadiah undian biasanya mainan anak-anak. Adhit kreatif dan kakaknya berpikir, kenapa mereka tidak buat undian serupa dengan hadiah-hadiah yang menarik tentunya. Adhit kemudian membuat undian. Teman-teman Adhit banyak yang tergitur dengan hadiah-hadiah yang ditawarkan.

“Dari situ saya mendapatkan keuntungan. Walau mendapat uang jajan yang pas-pasan dari orang tua, saya tetap bisa memnuhi keinginan saya untuk belanja barang-barang lain seperti anak pada umumnya,” kata Adhit.

Kebiasaaan berdagang terbawa pula waktu zaman Adhit kuliah. Dulu ia diberi mobil oleh orangtuanya. Namun, dibekali hanyaRp 50 ribu setiap minggu untuk alokasi bensin. Dengan kondisi keuangan seperti itu, Adhit hanya menggunakan mobil dari rumah ke kampus saja. Ia tidak mungkin bisa jalan-jalan sepulang kuliah. Adhit lagi-lagi mencari akal bagaimana caranya agar ia bisa seperti anak-anak yang lain, selain ke kampus juga masih bisa mejeng di tempat tempat lain.

“Saya kemudian mencoba jualan es kacang ijo di kampus. Di rumah saya belanja bahan-bahan, kemudian minta tolong pembatu saya untuk memasak. Setiap saya berangkat ke kampus es kacang ijo satu panci sudah siap. Saya masukan di mobil. Sesampai di kampus saya turunkan, lalu ditipkan di Kantin kampus. Pulang kuliah baru saya ngecek lagi berapa yang laku. Hasilnya saya bagi dengan pemilik kantin. Dari situlah saya bisa mendapatkan tambahan untuk beli bensin dan juga untuk memenuhi kebutuhan saya yang lain. Lagi-lagi, dikampus saya dikenal oleh teman-teman sebagai juragan kacang ijo. Saya sih cuek aja, yang penting saya bisa menghasilkan dengan jalan yang benar,” demikian kisah Adhit.

(Tulisan dimuat di Majalah Bisnis M&I Vol. 12 Des 2010 – Jan 2011)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon