Selasa, 28 Desember 2010

Pasar Badung Denpasar

Interaksi Pengunjung dan Pedagang di Pasar Badung
Desember 2010. Malam yang dingin. Jarum jam tangan menunjukan pukul dua dini hari. Saya menghapiri kedai kecil di bantaran sungai Pasar Badung.

Segelas kopi panas dan penganan khas Bali terbuat dari beras ketan cukup menghangatkan badan. Semula hujan rintik, kini semakin deras. Sementara aliran air di Tukad Badung semakin meluap.

Komang Sumiyasih, biasa di sapa “Mbok Mang”, pedagang sayur tak mau menyerah pada rutinitas alam di malam itu. Ia bergerak cepat berpacu dengan hujan, menutupi barang-barang dagangan dengan plastik berukuran lebar agar tak basah. Beberapa jenis barang tak boleh kena air karena gampang busuk.

Beberapa pedagang yang memiliki tenda semi permanen bergegas membantu Mbok Mang, meski tak diminta.

“Di sini kami sudah seperti keluarga, Mas. Kalau saya ada acara keluarga, teman-teman di sini pasti saya undang. Begitu juga kalau hari raya, kami saling mengunjungi,” tutur Mbok Mang.

Hujan tak kunjung reda. Atap lapak Mbok Mang dari plastik seadanya tak sanggup lagi menahan guyuran hujan. Saya segera pamit, lalu meluncur menuju teras komplek Pasar Kumbasari.

Pasar Kumbasari menjual barang-barang kerajinan khas Bali dan hanya buka pada siang hari. Malamnya, di bagian teras dan halaman lantai dasar gedung dimanfaatkan oleh pedagang sembako untuk jualan. Menjelang pagi, tempat sudah dibersihkan kembali.

Saya berdiri mendekatkan badan pada sandaran tembok teras gedung agar dapat mengamati aktivitas pedagang. Tukang suwun (baca: buruh junjung) sibuk menawarkan jasa kepada pengunjung yang sedang belanja.

Tak perlu repot menenteng sendiri barang belanjaan dalam jumlah banyak, sebab bila Anda mau, sudah ada tukang suwun yang siap membantu bawakan barang belanjaan Anda dari pasar menuju parkiran kendaraan tumpangan Anda. Besarnya upah tergantung kesepakatan dengan mempertimbangkan jumlah barang Anda. Umumnya, berkisar antara Rp 1000,- sampai Rp 5000,-.

Pada malam sebelumnya, saya berkenalan dengan Ni Ketut Dharmini, tukang suwun asal Klungkung. Wanita beranak satu tersebut datang ke Pasar Badung setiap hari, dari jam delapan malam hingga jam enam pagi. Dua tahun yang lalu, Dharmini diajak oleh tetangganya yang lebih dulu bekerja sebagai tukang suwun.

“Awalnya saya merasa canggung dan malu. Apalagi kalau dilihat oleh orang-orang yang saya kenal. Tetapi lama-lama saya jadi terbiasa. Penghasilan juga cukup memuaskan,” ungkap Ibu muda tersebut.

Berkat kerja kerasnya, Dharmini menjadi penopang ekonomi keluarga. Cicilan sepeda motor baru saja ia selesaikan bulan lalu. Motor menjadi kendaraan yang ia gunakan setiap datang ke pasar, siang dipakai sang suami untuk mengantar anak sekolah dan berangkat ke tempat kerja, kalau ada panggilan. Maklum suaminya hanya seorang buruh bagunan. Pekerjaan tidak selalu ada.

Hujan mulai reda. Jarum jam menunjuk pukul empat pagi. Pengunjung pasar mulai ramai. Saya lekas turun dari gedung Pasar Kumbasari, menyusuri jalan becek akibat guyuran hujan, melewati jembatan kecil yang menghubungkan Pasar Kumbasari dengan Pasar Badung.

Kedua pasar tersebut letaknya bersebelahan, dipisahkan oleh Tukad Badung. Pasar Kumbasari khusus menjual barang-barang seni, sedangkan Pasar Badung menjual kebutuhan sembako, bahan kebutuhan persembahyangan umat Hindu, buah-buahan, dll.

Sekarang saya nongkrong di depan teras toko Jalan Sulawesi, tepat di depan pelataran parkir Pasar Badung. Jalan Sulawesi terkenal sebagai pusat toko tekstil. Teras toko digunakan oleh para pedagang kopi pada malam hari. Mereka berjejer di sepanjang Jalan Sulawesi, mulai dari pertigaan Jalan Hasanudin hingga lampu merah perempatan Jalan Gajah Mada.

Seorang kakek datang, duduk tak begitu jauh dariku. Pakaiannya tampak lusuh. Saya menggeser posisi duduk agar lebih dekat dengannya. Ia terliht santai, sebatang rokok kretek keluar dari kantong baju, disulut dengan korek gas, lalu dihisap dalam-dalam. Kepulan asapnya seakan mengisahkan sebuah perjalanan hidup. Mata saya mulai berat menahan rasa ngantuk. Dua gelas kopi panas dipesan, satu buatku, satu lagi buat Si Kakek.

Suguhan kopi panas cukup ampuh mengakrabkan kami. Ada kehangatan dibalik tatapan matanya yang mulai redup dimakan usia. Ia biasa dipanggil Ka’ Lombok (Ka’ sebutan kakek dalam Bahasa Bali). Seperti namanya, sudah bisa ditebak ia berasal dari Lombok. Ia mengaku datang ke Bali sejak usia muda, tepatnya ia tidak ingat. Sebagian besar pedagang di Pasar Badung mengenal Ka’ Lombok, lebih-lebih pedagang lama.

“Waktu itu pasar masih sepi. Jalan belum ada yang diaspal. Belum ada bagunan gedung seperti sekarang. Kalau beli nasi di warung masih dibungkus daun jati,” ucap Ka’ Lombok dengan bahasa Indonesia terbata-bata.

Seorang wanita paroh baya tiba-tiba datang menghampri Ka’ Lombok yang sedang asyik menuturkan sejarah Pasar Badung. Rupanya ia akrab dengan Ka’ Lombok. Wanita tersebut bernama Ketut Eni, pedagang sembako.

Ia istirahat sejenak, menikmati kopi panas setalah bergelut dengan barang dagangan sejak sore. Usianya kini menginjak 42 tahun. Sudah berdagang di Pasar Badung sejak berusia 14 tahun. Ketut Eni mengaku hasil jualannya sekarang semakin menurun. Ditanya kenapa?

“Soalnya di Denpasar dulu hanya ada pasar Badung, Pasar Kreneng dan Pasar Satria, Mas. Sekarang ini pasar hampir ada di tiap desa. Belum lagi ditambah dengan super market, juga mini market di mana-mana. Saya ingat dulu banyak orang-orang bule juga belanja di sini. Sekarang mereka ke sini hanya jalan-jalan dan foto-foto,” ungkap wanita asal Gianyar ini dengan nada datar.

Tak terasa pagi telah tiba. Sinar matahari menyapu sisa-sisa kabut semalam, memantul di antara kaca jendela gedung-gedung tua sepanjang Jalan Gajah Mada. Orang dari berbagai penjuru bertemu di satu titik “Pasar Badung” untuk mengais rejeki. Entah bertahan sampai kapan.

Saya berlalu meninggalkan Ka’ Lombok dan Ketut Eni yang gelisah. Ada tulisan “Kawasan Heritage Jalan Gajah Mada” di dinding tembok pada taman, tepat di pertigaan Jalan Gajah Mada – Thamrin.

(Tulisan dimuat di Majalah Bisnis M&I)

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon