Rabu, 13 Oktober 2010

Paguyuban Shambala

Pondok Pengobatan Shambala
Revolusi sains dan teknologi kedokteran telah membawa kabar yang menggembirakan bagi kesehatan manusia. Teknologi kedokteran telah menciptakan alat-alat muktahir untuk mendeteksi segala jenis penyakit, ditemukan pula obat-obatan berkualitas untuk menyembuhkan.

Tentu saja tidak semua orang dapat menikmati kemajuan tersebut. Walaupun sejatinya spirit ilmu pengetahuan untuk membabaskan manusia dari segala macam keterbalakangan tanpa terkecuali. Pada kenyataannya mereka yang tidak mampu secara ekonomi hanya manjadi penonton kemajuan teknologi kedokteran. Mereka yang menderita penyakit tertentu terkadang harus terkapar di atas tempat tidur tanpa daya bertahun-tahun karena tak mampu bayar biaya rumah sakit.

Betapapun majunya teknologi di bidang kedokteran, namun pada batas-batas tertentu mereka “angkat tangan” untuk menyembukhan penyakit-penyakit tertentu. Lalu, pertanyaannya adalah: apakah masih ada harapan bagi mereka yang tidak mampu?

Jawabannya ada! Salah satunya yaitu, Paguyuban Sambala. Ingin tahu lebih jauh tentang Paguyuban Sambala? Tim Redaksi Swaberita menyajikan liputan spesial untuk Anda.

Sentuhan alam sangat terasa ketika tim Swaberita memasuki halaman Paguyuban Shambala. Jauh dibawah alam sadar kami tiba-tiba meresakan sensasi kedamaian dan ketenangan yang teramat dalam ketika pertama kali menginjakkan kaki di pekarangan.

Belakangan baru kami tahu dari pengurus paguyuban, ternyata halaman tersebut sengaja dipagari dengan aura positif. Hampir seluruh pekarangan yang luas tersebut ditanami dengan berbagai tanaman obat. Ornamen bangunan juga sangat sederhana dimana dinding-dinding bangunan seluruhnya menggunakan papan kayu yang kokoh. Tradisional dan alami, begitulah kesannya.

Sebenarnya Paguyuban Shambala sangat tidak ingin dipublikasikan, karena paguyuban ini tidak bertujuan mencari keuntungan. Setelah kami meyakinkan bahwa tujuan pemublikasian semata-mata untuk membantu memberikan informasi bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan, barulah salah satu dari pengurus mau diwawancarai. I Wayan Sugiarta adalah salah satu pengurus yang memberikan informasi kepada Swaberita.

Menurut Wayan Sugiatra, Paguyuban Shambala merupakan semacam paguyuban pengobatan penyakit dimana didalamnya tidak membedakan orang berdasarkan agama, suku, bangsa dll.

Mereka murni sebagai paguyuban pengobatan dengan mengandalkan penyaluran kekuatan dari Tuhan. Dan setiap penyalur terlebih dahulu melewati proses inisiasi, yaitu semacam pembukaan jalur-jalur kekuatan. Manusia memiliki jalur-jalur tempat keluar masuknya kekuatan atau yang diistilahkan dengan Cakra.

Paguyuban Sambala sendiri telah berdiri sejak tahun 2004 awal. “Kita tidak berani membedakan. Istilahnya kita tidak berani membanding-bandingkan. Ada pesan dari Master kita juga. Ilmu A dengan Ilmu B tidak bisa dibanding-bandingkan karena masing-masing punya nilai plus-nya,” ungkap Wayan Sugiarta penuh bijak.

Manusia memiliki 1 sampai 7 cakra, yaitu cakra dasar, cakra sex, cakra usus sampai ulu hati, cakra jantung, cakra tenggorokan, cakra mata ketiga dan terakhir cakra mahkota yang ada di ubun-ubun. Cakra selanjutnya yaitu cakra 8 sampai tak terhingga itu cakra Ilahi.

Dan para anggota disini rata-rata telah menguasai 12 cakra Ilahi, artinya mereka telah mampu melakukan kontak dengan yang di atas (Tuhan). Tahapan-tahapan pembukaan cakra biasanya pada tahapan awal atau Shambala basic dibuka sampai cakra 44. Nanti selanjutnya pada tahapan Shambala advan (lanjutan) dibuka sampai sekitar 600 cakra.

Informasi mengenai keberadaan Paguyuban Sambala selama ini hanya dari mulut ke mulut. “Saya sendiri awalnya tertarik karena misi kemanusiannya. Kita terus terang saja tidak berani memperjualbelikan karena bisa berakibat vatal karena kita semata-matanya sebagai media penyalur kekuatan diatas jadi misinya yang utama adalah misi kemanusiaan kadang-kadang kita sering di undang bekerja sama dengan PMI melakukan pengobatan ke desa-desa terpencil,” jelas Wayan Sugiarta.

Pengunjung yang datang berubat ke sini asalnya macam-macam, mereka datang dari berbagai daerah dan kota di Bali maupun luar Bali. Bahkan beberapa kali ada yang tadang dari Luar Negeri. Pengobatan di sini kelihatannya kalau dibilang mustahil, tapi tidak juga. Buktinya, beberapa hari yang lalu ada seorang pasien yang sudah di vonis harus operasi tempurung kaki oleh rumah sakit, namun setelah datang ke sini nyatanya dapat disembuhkan. Menurut Wayan Sugiarta, kekuatan Illahi (Tuhan) itu tidak mengenal ruang yang terbatas. “Apabila beliau yang di atas (Tuhan) menghadaki, maka tidak ada yang mustahil,” tegas Wayan Sugiarta.

Penyembuhan Penyakit Medis/Nonmedis


Pasien yang datang kemari tidak hanya mereka yang menderita penyakit medis, tetapi juga bagi mereka yang mengalami penyakit non medis.

“Seperti tempo hari seorang pasien sudah divonis oleh dokter harus menjalani Cemotherapy karena di sinyalir ada semacam gumpalan pada bagian otak belakang. Setelah dia kesini, ia merasa enakan badannya. Biasanya non medis itu kalau masuk kesini teriak-teriak. Penyakit non medis itu kan buatan manusia umumnya. Karena kita ini kan sebagai penyalur, pada saat kita pegang dia tidak tahan,” ungkap Wayan Sugiarta.

Wayan Sugiarta menambahkan, pernah ada orang buta begitu mau masuk kesini dia sudah meronta-ronta tidak mau masuk, padahal dia buta dan tidak tahu tempat apa yang ia masuki.

“Terus terang saja ya pak, disini kan kita pagari (secara niskala). Barangkali mereka sudah mengirimkan sinyal tidak baik. Jadi ketika memasuki tempat ini energi negatif akan di ubah menjadi energi positif. Dan kita tidak berwenang mengeluarkan itu, yang berwenang ada orang yang mengirimkan. Kita hanya menetralisir sehinga tidak berfungsi lagi” tutur Wayan Sugiarta mengakhiri wawancara.

Tulisan dimuat di Majalah PMSTI Bali, 2009.

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon