Selasa, 14 September 2010

Pura Kongco Ndek

Saya bersama Jero Mangku Wayan Sosial
Ada seratus tujuh puluh anak tangga menuju bukit yang disakralkan menuju Pura Kongco Ndek. Pohon-pohon lateng besi dan beringin berusia ratusan tahun berjaga disampingnya dan buah ”bukak” yang menguning seolah menjadi lampion di antara bayang dedaunan . Tak ada yang bisa menjawab dengan pasti kenapa Sang Empu mampu menemukan Sinar Magis Yang Mulia Kongco di sana.

Pada sudut pandang yang lain, hanya dapat memperkirakan faktor geografis adalah salah satu syarat terbentuknya peradaban yang biasanya ditemukan di bantaran danau, laut atau sungai sebagai sumber penghidupan.

Namun yang tetap menjadi misteri adalah justru letaknya yang jauh dari danau. Banyak paranormal mengatakan bahwa pilihan tempat itu diyakini sebagai pilihan absurd yang hanya mampu diterka secara metafisika karena tanah yang dipilih memancarkan sumber energi yang dahsyat.

Banyak hal tak terduga yang ditemukan di Pura Ndek. Sebuah kawasan yang terpencil di Desa Tambelingan, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Melalui jalanan yang terjal dan berliku di sebuah hutan yang lebat, tempat itu bertahta.

Danau Tamblingan yang sering disebut orang sebagai saudara kembar Danau Buyan ternyata menyimpan sebuah sejarah dari lontar-lontar kuno dari tembaga yang belum diketahui secara keseluruhan sampai saat ini.

Melalui kebaikan hati Mangku Han Tay Piauw kami dipertemukan dengan Jero Mangku Wayan Sosial. Sesuai namanya Mangku ini memang figur yang tulus. Tanpa basa-basi ia segera mengenakan pakaian adat dan bergegas mengantar kami.

Setelah berjalan kaki kurang lebih dua kilometer melewati pohon-pohon besar yang usianya ratusan tahun, kami tiba di bawah anak tangga yang jumlahnya seratus tujuh puluh buah. Tidak mudah mendaki ke atas, namun suasana teduh yang menyenangkan dilamur asap dupa yang tertangkap indra penciuman pada dua Pura kecil sebelum tiba di atas memancing hasrat untuk segera naik.

Barangkali orang kota perlu belajar kesehatan dari tua-tua China tempo dulu yang tekun mengolah indera dan kanuragan disamping bisnis, budaya dan adat. Semangat ini pula yang secara tak langsung diyakini oleh Jero Mangku Sosial dan Mangku Han Tay Piauw sebagai dasar panggilan hidup mereka.

Pada areal tanah datar kami dapat melihat sebuah tempat lagi yang letaknya lebih tinggi dari tempat kita berpijak. Ternyata tempat Pura Kongco ini didirikan terbagi atas tiga tahapan yaitu bawah atau Jaba, tengah yang disebut sebagai Jaba Tengah dan atas atau Mandala Utama di mana Pura Kongco bernaung.

Sebelum menaiki tangga itu terdapat dua buah Patung Kilin, penjaga yang diberikan oleh orang Jerman setelah kaulnya berhasil ketika ia memohon di tempat itu.

Dengan menggunakan Bahasa Bali halus, Jero Mangku Sosial meminta ijin pada segenap Roh Suci penghuni tempat itu. Setelah Beliau menghormat barulah rombongan bersama-sama menaiki tempat tersebut.

Tiba di atas, masih terlihat sisa upacara di altar persembahan pada peziarah yang datang sebelum kami. Mangku Han menyalakan dupa dan juga lilin di altar, serentak hawa magispun mulai terasa. Sandy anggota tim bernarga Tionghoa segera bersila dan Jero Mangku Sosial pun kebali berdoa dalam bahasa Sansekerta.

Mangku memperkenalkan pada leluhur yang ada di sana bahwa seorang peziarah yang datang di tempat itu berasal dari keturunan leluhur yang bersemayam di Tabanan. Sudah menjadi tradisi bahwa seorang pemangku memperkenalkan peziarah yang tangkildalam doa kepada leluhur atau Bathara dan Bathari yang melinggih di tempat ziarah.

Dua kultur yang berasimilasi menjadi satu membuat tempat sakral ini beebeda dari tempat sakral lain. Jika di banyak tempat kita melihat ada dua Pelinggih yaitu Pura dan Kongco yang disembah oleh penganut ajaran Kongfucu, Budha dan Hindu secara bersamaan maka di tempat ini Pelinggihnya ada satu. Roh Suci yang Satu termanifestasi dalam dua nama yaitu Ida Bhatara Panglingsir Kentel Bumi atau dalam tradisi Tionghoa disebut Yang Mulia Kongco.

Kehadiran Pura Kongco ini membawa harmonisasi bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya juga masyarakat dunia. Hal ini ditandai dengan hadirnya para peziarah yang datang dari dalam dan luar negeri, seperti Tibet, China, Singapura, Thailand, Jerman, Canada, Australia, Amerika, Belanda dan negara-negara lain. Mereka datang walau tidak bertepatan dengan hari odalan Pura Kongco yang diselenggarakan setiap enam bulan sekali.

Menurut hitungan hari itu jatuh pada purnama ke empat yaitu antara bulan delapan dan sembilan. Mereka yang bersembahyang di tempat ini biasanya tak melewatkan Pura Kongco Batumeringgit yang letaknya berada di tengah Kebun Raya Bedugul, sebab diibaratkan Kepalanya adalah Pura Ndek maka badannya adalah Pura Batumeringgit.

Ada kurang lebih lima belas situs yang tersebar di sekitar halaman Pura Kongco Ndek. Pada areal bagian kanan yang letaknya agak menyudut terdapat Gedong penyimpanan barang-barang pusaka yang terdiri dari topi, sepatu dan koper yang telah membatu, hasil peninggalan para leluhur yang pernah bernaung di sana.

Awalnya yang datang adalah Marga Pande yang diyakini sebagai Marga Liem dalam tradisi Tionghoa. Sebelum situasi berkembang seperti saat ini barang-barang pusaka yang ditemukan saat pembangunan Pura Konco tertua se Bali tersebut, diletakan diantara situs-situs yang disakralkan.

Diantara situs-situs yang tersebar, ada sebuah situs unik yang dipersonifikasikan sebagai Dewa Ngurah Lepang. Dari bentuknya yang cenderung pipih di bagian atas, situs ini lebih mirip seperti tempat duduk. Demikian pula dengan pohon andongyang tumbuh dibelakangnya seperti pajeng atau payung kerajaan.

Jika kita amati lebih jauh maka tempat itu lebih mirip dengan tahta Sang Sumbu, sapaan lain dari Yang Mulia Kongco bagi warga Tionghoa. Dewa Ngurah Lepang adalah Bhatara sekaligus ruang protokoler yang dikuduskan ketika Beliau yang berkuasa di tempat itu beristirahat sejenak setelah pulang dari lawatan gaibnya ke berbagai tempat di belahan dunia ini.

Dari tuturan yang didapat dari Mangku Wayan Sosial maupun Mangku Han Tay Piauw, kawasan ini adalah tempat menempa sekaligus mentransfer kesaktian dari berbagai senjata. Termasuk golok yang digunakan oleh Gajah Mada dalam mempersatukan Nusantara.

Kesaktian yang berasal dari Marga Pande atau Marga Liem menghasilkan senjata unggul yang hampir tidak ada duanya di seluruh wilayah Nusantara ini, itulah sebabnya Sang Patih Majapahit dapat menaklukan berbagai daerah termasuk di luar kawasan Indonesia seperti pesisir Australia, Thailand, Filipina hingga Madagaskar.

Konon, diceritakan bahwa panas yang digunakan dalam menempa pusaka itu berasal dari geni atau api yang keluar dari kening Sang Empu. Demikian pula dengan pusaka bersangkutan, ia tidak dipukul dengan besi melainkan ditempa di atas paha dan lutut dengan menggunakan tangan lalu dihaluskan melalui tekanan pada ibu jari sang Empu.

Pengunjung datang dari Lombok, Surabaya, Banyuwangi, Mojokerto dan beberapa daerah lainnya di Indonesia temasuk para pejabat teras sekelas Winasa dan Cok Suryawan. Pendoa-pendoa ini sering kali melakukan laku tapa dari malam hingga pagi. Kedatangan mereka bukan semata-mata oleh keinginan sendiri atau melalui cerita dari orang tua-tua tetapi menerima pesan yang dikirim lewat mimpi atau wangsit.

Banyak dari mereka yang kembali lagi ke tempat ini membawa peralatan sembahyang seperti keramik atau dupa, bahkan di antaranya ada yang melakukan renovasi di beberapa bagian seperti membangun tangga atau membuat pagoda untuk Pura Kongco setelah kaul mereka terpenuhi.

Mengamati lebih jauh lagi kita akan melihat beberapa keran yang dipasang di sekitar tempat itu. Hanya peletakkan keran itu lebih estetis dan terkemas lewat sentuhan religius melalui canang yang diletakkan dekatnya.

Di balik rasa syukur karena air merupakan sumber kehidupan yang disucikan menjadi tirta, ia adalah lambang bagaimana kebesaran Tuhan bekerja atas tempat itu. Beberapa tahun yang lalu orang mengambil air dari danau untuk berbagai keperluan. Namun belakangan air danau tidak diperkenankan untuk digunakan lagi karena dianggap leteh atau kotor karena telah digunakan untuk keperluan rumah tangga. Orang Suci yang memberitahu hal itu memberikan pula solusinya, bahwa sekitar dua kilometer ke atas ada mata air yang jernih sekali dan airnya dapat diminum langsung.

Awalnya para pencari merasa kurang yakin karena sebelumnya pernah berusaha untuk menemukan tapi gagal. Setelah menaiki bukit mengikuti petunjuk yang diberikan oleh paranormal bersangkutan dan memanjat tebing dari tempat mereka berada, akhirnya mereka menemukan cekungan tanah yang berisi air. Di sana air segar keluar dari tiga unsur bumi yaitu akar, paras dan batu.

Air itu kemudian disucikan melalui upacara dan dialirkan pada pipa yang mengalir ke Pura Kongco sebagai Petirtaan. Air ini selain digunakan sebagai tirta juga dipercayai dapat menyembuhkan penyakit medis dan nonmedis.

Tentu hal ini dapat dirunut dari nama daerah bersangkutan yaitu Tamblingan yang memiliki akar kata Tionghoa yaitu Tam Ling An dan bahasa daerah yaitu tambe yang berarti obat dan lingan yang merujuk pada kata elingan yang berarti ingat.

Paling tidak ketika orang mengalami sakit penyakit atau hal-hal yang berhubungan dengan masalah perekonomian yang mengarah pada sakit fisik dan psikis dalam hidup mereka, diharapkan untuk menimba ketenangan batin, berkat dan kesuksesan di Pura Kongco tersebut.

Harapan Terpendam

Sebagai situs keagamaan Marga Tionghoa tertua di Bali yang berlokasi di pelosok lereng bukit seperti ini, sekali lagi dua mangku Siwa Budha itu hanya dapat berharap agar seluruh umat melakukan yang terbaik demi kelestariannya.

Aliran listrik yang belum masuk dan kerusakan di beberapa bagian serta fasilitas jalan dan bangunan yang belum memadai menjadi bagian dari kekhawatiran mereka juga. Beberapa waktu lalu memang ada niat dan usaha untuk membangun tempat tersebut dengan memotong beberapa kayu di sana. Tapi sayang karena kurangnya dana dan pengaturan yang bagus, maka kayu-kayu yang telah dipotong berupa balok hilang entah kemana.

Akankah sebuah artefak yang menjadi salah satu cikal bakal terbentuknya Nusantara ini, harus tergerus begitu saja lantaran kita lamban meresponnya? Temukanlah jawabannya dihati kita lalu berbuatlah sekecil, demi rasa syukur sederhana buat leluhur kita.

Tulisan dimuat di Majalah PMSTI Bali, 2009. 

Keternagan Foto: Saya Bersama Mangku Han Tay Piauw di depan Altar Utama Pura Kongco Ndek

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon