Kamis, 09 September 2010

Griya Kongco Dwipayana: Simbol Pusaka Kebhinekaan

Griya Kongco Dwipayana tampak depan
Menyusuri Jalan By Pass Ngurah Rai, Suwung Denpasar Selatan sekilas tak ada yang istimewa, kecuali jejeran pohan bakau sebagai hutan, paru-paru kota. Tidak banyak yang tahu, ditengah-tengah hutan bakau pinggir muara akhir tukad Badung terdapat rumah ibadah yang diberi nama Griya Kongco Dwipayana. Kedengarannya memang asing, tapi ada kedamaian terpancar di sana. Bagaimana cerita awal mula berdirinya tempat ibadah ini? Ikuti terus liputan berikut ini.

Sinar matahari terpancar cerah menerobos celah-celah ranting dan dedaunan pohon bakau nan rindang di sepanjang jalan saat tim Swaberita melewati jalan kecil menuju lokasi Griya Kongco Dwipayana. Seeokor biawak sebesar betis orang dewasa melintasi jalan, seakan menyambut kedatangan kami.

Burung-burung kecil beterbangan, berkicau, melompat di antara ranting-ranting bakau. Dekapan alam terasa erat mengingatkan pada filosofi hubungan manusia dengan alam semesta yang tak dapat dipisahkan. Alam menjadi sumber kehidupan segala mahluk hidup.

Di samping gerbang terdapat tulisan “Griya Kongco Dwipayana”. Terpancar aura keagungan nan damai dari bangunan yang berarsitektur khas Tionghoa ini.

Rasa kagum belum pula lenyap, tiba-tiba Swaberita terperanjat menyaksikan satu simbol kebhinekaan permanen. Kami menyaksikan bagunan pura yang berdiri persis berdampingan dengan Griya Kongco Dwipayana. Sungguh satu perpaduan yang mengajarkan keberagaman dan toleransi antar sesama mahluk ciptaan Tuhan.

Satu-satunya narasumber yang Swaberita temui adalah Pemangku Griya Kongco Dwipayana, yaitu ratutu Mangku bernama I. B. Adnyana. Beliau menyambut kedatangan kami dengan penuh kasih dan kehangatan.

Dari Atu Mangku, Swaberita mendapatkan penjelasan segala sesuatunya mengenai Griya Kongco Dwipayana. Selain hasil wawancara kemi diberikan pula satu karya penelitian ilmiah oleh Krisnanda Cittavagga, seorang mahasiswa S1 Fakultas Sastra Jurusan Sastra Cina Universitas Darma Persada, Jakarta, tentang Griya ini sebagai data tambahan.

Akulturasi Budaya Cina – Bali

Dalam konteks hunian, setiap orang yang berpindah akan membawa serta pola-pola pikiranya yang tercermin dalam kebudayaan. Hal tersebut bisa dilihat dari arsitektur bangunannya berupa bangunan rumah ataupun tempat melakukan peribadatan dan ritualnya, ornamen-ornamen yang menyertainya, bahasa yang dipakai, gaya berpakaian, dan lain-lain.

Dan bagi orang Cina, seseorang baru dianggap mapan atau menetap disuatu tempat bila terdapat banguna suci yang bernama kelenteng di daerah tempat tinggalnya. Karena pada dasarnya orang Cina selalu terlibat dalam kehidupan religius, dan bahkan ada yang sangat religius.

Di Bali, Kelenteng lebih dikenal dengan nama kongco, dan ditambahkan kata griya di depannya oleh masyarakat lokal yang menandakan tempat suci. Tidak seperti kelenteng lain, nama tempat ini tidak diganti menjadi vihara. Sejak didirikan hingga sekarang tempat ini tetap bernama Griya Kongco Dwipayana.

Menurut Atu Mangku, proses berdirinya kongco ini berdasarkan petunjuk wahyu dan diwujudkan oleh orang-orang yang percaya. Kata kongco berasal dari kata Khong Hucu, seorang filsuf yang menyebarkan ajaran Khonghucuisme.

Para penganut ajaran ini melakukan kegiatan rohani mereka di kelenteng atau di kuil. Lama kelamaan kata Khong Hucu ini diidentikan dengan kelenteng, sehingga akhirnya dalam percakapan sehari-hari masyarakat melafalkan bangunan suci tersebut dengan sebutan kongco, dan istilah inilah yang lebih dikenal di Bali daripada kata ‘kelenteng’ yang lebih dikenal di luar pulau Bali, khususnya masyarakat pulau Jawa dan di Indonesia pada umumnya.

Dwipayana diambil dari bahasa Sanskerta, Pengaruh dari agama Hindu-Bali. Dilihat dari namanya, yaitu dwipayana; kongco ini memiliki beberapa arti. Menurut Kamus Jawa Kuna – Indonesia, dwipa artinya pulau dan yana artinya lahir, jadi dwipayana artinya yang lahir di pulau.

Menurut Atu Mangku, dwi artinya dua dan payana artinya menjadi satu. Sehingga dwipayana berarti dua mmenjadi satu atau menyatunya dua hal. Arti lain, menurut Kamus Jawa Kuna – Indonesia, dwipa artinya gajah; oleh karena itu Atu Mangku juga mengartikan dwipayana sebagai kendaraan dewa-dewa cina.

Ditilik dari namanya pula, kongco ini mempunyai cerita tersendiri yang melatarbelakangi sejarah berdirinya serta asal usul namanya.

Menurut cerita, dahulu kongco mulai dibangun secara bertahap di tengah hutan bakau yang terpencil untuk dibaktikan kepada Ida Ratu Batara Hyang Niang Lingsir sebagai penguasa setempat dan kepada seorang ahli pengobatan dan filsafat dari negeri Cina, yang dipercaya sebagai keturunan salah seorang raja dinasti Qing (qing chao 1644 – 1911) yang dikenal dengan Wang Da Ren.

Menurut narasumber, Wang Da Ren dan ratusan prajurit berlayar dan merapat di tepi pantai Benoa, Bali. Beliau bertemu dengan penguasa lokal dan saling bertukar ilmu pengetahuan yang pada akhirnya menambah kekuatan dan kemampuan masing-masing untuk menolong orang banyak. Karena menemukan kecocokan, maka Wang Da Ren dan Pasukannya memutuskkan untuk menetap di pulau Bali dan idak pernah kembali lagi ke negerinya.

Setelah itu, keduanya menjadi sangat terkenal dan harum namanya sehingga didirikan bangunan kongco ini sebagai wujud bakti kepada Ida Ratu Hyang Niang Lingsir dan Wang Da Ren atas jasa mulia mereka karena banyak menolong masyarakat sekitar.

Bersatunya kedua tokoh tersebut telah memberi ilham untuk pemberian nama tempat ini, sehingga tempat ini bernama Dwipayana. Hal ini juga mengandung arti bahwa siapapun yang datang, baik orang Cina maupun orang Bali, kalau sudah memasuki tempat suci ini, maka semuanya adalah sama dan memiliki satu tujuan, tidak ada rasa perbedaan.

Sumeber Gambar: Prof. Suli

Tulisan pernah dimuat di Majalah PMSTI Bali, 2009.

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon