Minggu, 12 September 2010

Ciamsi di Griya Kongco Dwipayana

Salah satu ruang peribadatan di Griya Kongco Dwipayana
Di setiap kelenteng orang mengenal istilah ciamsi atau meramal nasib, begitu juga di Griya Kongco Dwipayana ini. Namun meramal nasib di sini tidak diperkenankan hanya untuk main-main atau sekedar ingin tahu hal-hal yang kurang penting atau kurang mendesak sifatnya.

Biasanya ciamsi dilakukan melalui konsultasi terlebih dahulu dengan Atu Mangku sebagai abdi setia kongco ini. Bahkan Atu Mangku mengatakan kepada para pengunjung bahwa apabila bukan masalah ‘hidup dan mati’ atau bukan dalam keadaan darurat, maka sebaiknya tidak melakukan ciamsi.

Ciamsi hanya dilakukan bila tidak ada lagi jalan keluar untuk memecahkan suatu masalah. Orang Cina yang akan melakukan ciamsi, biasanya mempersembahkan buah-buahan dan bermacam-macam kue. Sedangkan penduduk Bali, akan mempersembahkan banten pejati.

Proses ciamsi di konco ini juga tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di kelenteng-kelenteng lain, hanya sarananya saja yang berbeda. Pertama, orang yang akan melakukan ciamsi baik orang Bali maupun orang Cina, meletakkan persembahannya di atas altar, kemudian bersembahyang menggunakan dupa atau hio dengan selendang yang dililitkan di pinggang untuk menyampaikan maksud dan tujuan di hadapan dewa.

Kemudian dia melakukan siaphue yaitu melemparkan sepasang peiciao untuk menanyakan apakah para dewa menerima niat orang tersebut untuk ramal nasib pada hari ini. Peiciao merupakan dua potong kayu yang dibentuk seperti dua belahan kacang merah raksasa, kedua-duanya mempunyai dua permukaan yang berbeda, satu cembung dan satu lagi rata.

Setelah dilemparkan, peiciao mungkin jatuh dengan posisi yang sama, yaitu kedua-duanya jatuh dengan permukaan yang cembung atau kedua-duanya rata. Kesamaan permukaan menunjukan bahwa dewa belum menyetujui orang tersebut untuk melakukan ciamsi atau belum ada jodoh hari ini sehingga tindakan siaphue harus diulang.

Jika sudah diulang beberapa kali (biasanya sampai tiga kali saja) namun permukaan peiciao tetap sama, maka dikatakan bahwa orang tersebut belum ada jodoh untuk melakukan ciamsi pada hari itu dan ia harus bersabar untuk menunggu keesokan harinya dan bertanya lagi kepada dewa.

Bila sepasang pieciao jatuh pada permukaan yang berbeda menghadap ke atas, yaitu satu cembung dan satu lagi rata, berarti bahwa dewa menyetujui orang tersebut untuk ciamsi. Setelah itu, bersembahyang untuk menanyakan kembali apakah benar dirinya bisa atau tepat waktunya untuk melakukan ciamsiyang dilanjutkan dengan melempar peiciao lagi.

Setelah benar-benar disetujui, baru kemudian mengocok beberapa puluh batang bambu dalam tabung bambu yang dipotong-potong seperti lidi besar sepanjang kurang lebih 20 sentimeter yang disebut pociam. Untuk konfirmasi, dilempar kembali peiciao untuk mengetahui apakah benar nomor yang tertera pada pociam ini memang ditujukan kepada orang tersebut.

Setelah pociam yang dilempar disetujui, maka langkah terakhir adalah mencocokannya dengan nomor salah satu kotak yang berisi ramalan si pelempar peiciao tersebut. Kertas hasil ramalan ini harus dibaca sendiri oleh orang yang melakukan ciamsi karena dinilai hanya yang paling tahu keadaannya, dan karena merupakan rahasia pribadi.

Namun bila masih mengalami kesulitan untuk memahami hasil ramalan, maka dia dapat membaca buku pedoman yang berisi penjelasannya atau bisa berkonsultasi dengan Atu Mangku, tatapi tetap disarankan untuk berusaha mencari artinya sendiri dan mencocokannya dengan keadaan diri.

Kesenian Barongsai


Kesenian barongsai juga berkembang di Griya Kongco Dwipayana, dengan nama “Mutiara Naga”. Kelompok barongsai ini hampir setiap bulan melakukan pementasan, terutama pada saat acara piodalan atau hari ulang tahun kongco dan pada saat tahun baru imlek di Griya Kongco Dwipayana atau kongco lainnya. Kelompok kesenian barongsai ini juga sering mengadakan pertunjukan untuk acara-acara di tempat lain secara komersil, seperti acara pernikahan, peresmian gedung, dan lain-lain.

Tampaknya permainan barongsai banyak menarik minat masyarakat yang bermukim di sekitar kongco, sehingga kelompok pemain barongsai melibatkan tidak hanya orang-orang Cina saja, tetapi juga orang-orang Bali dan Jawa yang bermukim di sekitar kongco.

Menurut Atu Mangku, semuanya menyenangi permainan ini sehingga kegiatan ini mampu menyatukan mereka yang datang dari berbagai macam suku dan kepercayaan yang berbeda-beda. Latihan barongsai biasanya dilakukan pada hari Minggu di pelataran parkir Griya Kongco Dwipayana yang cukup luas.

Sumeber Foto: BaliHolidayInfo

Tulisan dimuat di Majalah PMSTI Bali, 2009.

Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon