Rabu, 31 Desember 2008

Tentang Saya


Entah sudah berapa banyak saya menulis tentang profil orang lain. Tak ada kendala yang saya hadapi. Namun di saat harus menerangkan diri sendiri, sungguh terasa berat.

Seperti orang lain, umumnya merasa canggung menceritakan tentang diri sendiri. Saya takut dibilang narsis. Saya juga khawatir dikatakan terlalu membanggakan diri sendiri.

Untung saya ingat perkataan sahabat saya yang kini menjadi politisi terkenal di Senayan. “Kalau kita tak mampu memperkenalkan diri pada orang lain, bagaimana kita dapat memasuki belantara dunia,” bigitu katanya.

Menurutnya lagi, menceritakan pengalaman-pengalaman, termasuk prestasi yang pernah kita raih bukan bermaksud membanggakan diri, tetapi agar orang memahami bagian-bagian mana yang bisa disinergikan berdasarkan latar belakang kita.

Benar juga perkataanya. Akhirnya saya coba deskripsikan tentang diri saya. Kini saya tak canggung lagi.

--ooo--

Saya dilahirkan di Bima, Nusa Tenggara Barat pada tanggal 3 Januari 1980 dari pasangan orang tua: Muh. Nur Jafar, SH dan Siti Sarah, Spd. Saya anak kedua dari empat bersaudara.

Aktivitas politik yang ayah saya lakukan sangat mempengaruhi pola hidup maupun pola pikir saya sejak kanak-kanak hingga saat ini.

Ayah saya tergolong “bandel”. Beliau adalah seorang guru, Pegawai Negeri Sipil (PNS). Waktu itu PNS diwajibkan menjadi kader Golkar. Ayah saya tidak tunduk dengan aturan paksa rezim Orde Baru (Orba) itu.

Ayah saya memilih menjadi aktivis partai lain. Pilihan tersebut bukan berati tanpa konsekuensi. Rezim Orde Baru mencium berbagai aktivitas politik yang ayah saya lakukan. Sebagai hukumannya, ayah saya sering dipindahtugaskan.

Kami tidak pernah lama tinggal di suatu tempat pada waktu itu. Seolah rezim Orba sengaja menghukum keluarga kami atas pilihan politik ayah saya. Hidup berpidah-pindah bukanlah perkara gampang.

Saya dan saudara-saudara saya harus beradaptasi lagi dengan lingkungan baru. Mendaftar di sekolah yang baru, berkenalan dengan teman-teman baru, berkenalan lagi dengan tetangga baru. Baru saja berkenalan sudah harus siap-siap lagi pindah ketempat yang baru. Mulai dari nol lagi.

Hadiah terhebat yang diberikan oleh Orba kepada ayah saya adalah penjara selama 5 tahun. Ayah saya bersama 28 aktivis lainnya dituduh terlibat dalam perbutan makar. Usia saya sekitar 9 tahun waktu itu.

Hidup sebagai anak tahanan politik mendapatkan banyak tekanan. “Dasar anak tahanan!” kata-kata itu sering saya dapatkan ketika berselisih dengan teman main. Kata-kata yang sama tak jarang saya dengar dari guru di sekolah saat saya dianggap bandel.

Saya merasa bersyukur. Kehidupan keras yang saya lalui tak membuat mental saya jatuh. Saya menyerap segala keberanian dan prinsip-prinsip hidup yang ayah saya pegang teguh.

Bahwa seberat dan sekeras apapun tantangan yang kita hadapi dalam memperjuangkan kebenaran yang kita yakini, pantang menyerah. Bahwa pemenang sesungguhnya bukan mereka yang tak pernah kalah, melainkan mereka yang memiliki semangat tak terkalahkan.

--ooo-- 

Berikut beberapa pengalaman di bidang organisasi yang pernah saya geluti:
  1. Ketua Organisasi Intra Sekolah (OSIS) SMPN 4 Bima, tahun 1995 – 1996
  2. Wakil Ketua Forum Ilmiah Remaja (FIR) Kabupaten Bima, tahun 1997 – 1998
  3. Ketua Organisasi Intra Sekolah (OSIS) SMKN 1 Bima, tahun 1998 – 1999
  4. Ketua Umum Perhimpunan Pemuda dan Mahasiswa Bima Dompu (PPMBD) Bali, tahun 2002 – 2005
  5. Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa “Kertha Aksara” Fakultas Hukum Universitas Udayana, tahun 2003 – 2004
  6. Koordinator Dewan Etik Nasional (DEN) Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Nasional, tahun 2003 – 2005
  7. Koordinator Litbang Himpunan Mahasiswa Ekstensi (HMPE) Fakultas Hukum Universitas Udayana, tahun 2005 – 2006
  8. Sekretaris Bali Crisis Centre (LSM. di bidang Bantuan Kemanusiaan dan Bencana Alam), tahun 2005 – 2007
  9. Sekretaris Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Wilayah Bali, tahun 2007 – 2009
  10. Sekretaris Majelis Paguyuban Bima Dompu (MPBD) Bali, tahun 2008 – sekarang
  11. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bali, Tahun 2009 - 2010
  12. Salah Satu Pendiri Penala eNTiTy 2010 – Sekarang
  13. Salah Satu Dewan Pendiri Sunda Kecil Institute (Lembaga di Bidang Pendidikan Anti Korupsi), tahun 2011 – Sekarang
  14. Kepala Divisi Program Yayasan Manikaya Kauci Bali 2010 – 2013
  15. Direktur Eksekutif Sunda Kecil Institute, tahun 2012 – Sekarang
  16. Wakil Katua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Bali 2015 – 2018
--ooo--  

Berikut beberapa pengalaman di bidang jurnalistik dan penulisan yang pernah saya geluti:
  1. Redaktur Pelaksana Tabloid Meci Angi, ditrbitkan PPMBD Bali, 2001 – 2002
  2. Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa “Kertha Aksara” Fakultas Hukum Universitas Udayana, tahun 2003 – 2004
  3. Pemimpin Redaksi Majalah X-Impunitas, terbitan PBHI Bali, tahun 2007 – 2008
  4. Kontributor majalah PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia) daerah Bali, tahun 2008.
  5. Sekretaris Jurnal Konstitusi, Pusat Kajian Konstitusi Universitas Udayana, tahun 2008 – 2010
  6. Pemimpin Redaksi Majalah Jagad Hita, diterbitkan oleh Walhi Bali, 2009 – 2010
  7. Redaktur Pelaksana Majalah SDE (Suara Ikadin Denpasar) yang diterbitkan oleh Dewan Pimpinan Cabang Ikatan Advokad Indonesia (IKADIN) Denpasar, 2009 – 2010
  8. Menjadi editor dan penata letak buku, yakni: a) Perbandingan Hukum Konstitusi: Prof. Dr. I Dewa Gede Atmadja, SH, MS. Tahun 2006; b) Penalaran dan Argumentasi Hukum: Prof. Dr. I Dewa Gede Atmadja, SH, MS. Tahun 2009; c) Butir-Butir Pemikiran Prof. Dr. I Dewa Gede Atmadja, SH, MS. Tentang HAM dan Hukum Tata Negara Tahun 2009; d) Sejarah Konstitusi Indonesia: Prof. Dr. I Dewa Gede Atmadja, SH, MS. Tahun 2010
  9. Koordinator Liputan Majah Bisnis M&I, tahun 2010 – 2011.
  10. Redaktur Pelaksana Majalah Solidaritas, diterbitkan Yayasan Makiya Kauci, 2011 - sekarang.
  11. Pendiri Media Warta NTB, tahun 2015.

This Is The Oldest Page
Comments
0 Comments

Terimakasih telah berkomentar di Blog saya. Setiap kata yang sobat tinggalkan adalah jejak pencerahan peradaban. Jabat erat.
EmoticonEmoticon